Ustaz Sumar: Korban Kekejaman Politik Masa Lalu

Korban kekerasan Pemilu 1982

Korban kekerasan Pemilu 1982. (Sumber foto: http://www.haryandoko.blogspot.com)

Jumat dinihari di awal bulan Mei 1982. Pemilu baru usai beberapa hari lalu. Kegelapan masih menutupi Desa Amis yang terletak di Kecamatan Cikedung itu. Para santri masih terlelap tidur di rumah Ustaz Sumar. Sekitar 9 orang santri yang rata-rata berumur 15 tahun memang seperti biasanya tidur di rumah sang ustaz hingga usai shalat subuh. Malam itu, mereka mengaji seperti biasa dan melaksanakan kegiatan Marhaban.

Keheningan dinihari itu pecah ketika pintu rumah sang ustaz yang sederhana itu didobrak oleh sekelompok orang tak dikenal. Kaca jendela pun dipecah berkeping-keping. Segerombolan orang-orang berpakaian militer merengsek masuk ke rumah itu. Tak ayal para santri pun terbangun dari mimpi mereka. Belum sampai penuh kesadaran mereka, golok dan senjata laras panjang telah siap menghabisi mereka.

“Awas! Jangan bergerak kalau mau selamat!” bentak salah seorang dari anggota gerombolan itu. “Mana Sumar?! Sumar, keluar!”

Para santri itu pun terdiam di lantai yang hanya beralas tikar itu. Namun yang dicari telah pergi meninggalkan rumah itu. Hanya sang istri, ibu, dan sembilan orang santri yang berada di rumah tersebut. Nursiah, istri Ustaz Sumar yang sedang mengandung tujuh bulan anak pertamanya, keluar dari kamar.

“Mana Sumar?!” tanya salah seorang anggota gerombolan.

“Tidak tahu, Pak,” jawab Nursiah dengan bergemetar. “Saya dari tadi tertidur.”

Ada puluhan orang yang masuk ke rumah Ustaz Sumar. Mengobrak-abrik seisi rumah. Tak peduli dengan sepatu laras mereka yang penuh dengan lumpur. Namun yang dicari tetap saja tak tampak batang hidungnya.

Sementara Ustaz Sumar sendiri telah menjauh dari rumahnya. Ia sangat menyadari, ia memang dijadikan target operasi oleh partai penguasa saat itu. Partai yang, anehnya, tidak sudi disebut partai. Karena itulah, ia pun telah berjaga-jaga saat mendengar adanya rencana serangan di malam itu. Saat gerombolan itu betul-betul datang, ia telah keluar dari rumah.

Dari kejauhan, terlintas dalam pikiran Ustaz Sumar tentang keselamatan istri, ibu dan para santrinya. Ia pun lantas memutuskan kembali ke rumah. Betul saja. Gerombolan itu telah menyandera para penghuni rumahnya. Ia pun dihadang gerombolan itu yang sejak awal memang mencari-cari dirinya. Tak sudi diringkus, Sumar melawan. Duel pun tak terhindar.

Namun Sumar bukanlah lelaki sembarangan. Selain sebagai ustaz yang mengajar di desanya, ia juga seorang pendekar yang disegani. Sepuluh tahun lebih ia berguru di berbagai pesantren. Tidak hanya ilmu agama yang perdalam, tapi jua ilmu kanuragan. Tak aneh jika ia pun tidak mudah dilumpuhkan.

Meski dikeroyok banyak orang, Sumar tak jua menyerah. Ia melawan dengan gagah berani. Pohon-pohon pisang di samping rumah Sumar bertumbangan terkena sabetan golok. Enam peluru telah dimuntahkan untuk membidik sang pendekar. Tapi tak satu peluru pun berhasil menembus tubuhnya.

“Sumar! Kalau kamu tak jua menyerah, kami habisi semua orang di rumah kamu. Ibu, istri, dan santri-santrimu akan kami tembak semua!” Terdengar ancaman salah seorang anggota gerombolan.

Perlawanan Sumar kontan terhenti. Ia sadar, ancaman itu bukan gertak sambal. Sudah banyak korban kekejaman gerombolan itu di berbagai daerah. Keselamatan ibu, istri, dan para santri lebih ia pentingkan daripada dirinya sendiri. Jika ia hanya mementingkan keselamatan dirinya sendiri, tentu ia tak perlu kembali ke rumahnya dan ia pun selamat.

Sebutir peluru akhirnya berhasil menembus lutut Sumar. Darah segar mengucur deras. Ia pun jatuh tersungkur seraya memekikkan “Allahu Akbar.” Sesaat kemudian, sebuah senapan kembali menyalak. Sebutir peluru bersarang di dekat tumit kaki Sang Ustaz yang satunya. Darah kembali mengalir deras.

Korban tembak Pemilu 1982 (Sumber foto: www.haryandoko.blogspot.com)

Korban tembak Pemilu 1982 (Sumber foto: http://www.haryandoko.blogspot.com)

Melihat sang pendekar tergeletak, para gelomboran itu lantas menginjak-injak tubuhnya. Kali ini serangan golok mereka juga dengan mudah melukai tubuhnya. Tak ayal darah pun berceceran di mana-mana.

Waktu terus berjalan mendekati subuh. Para santri belia yang dijaga ketat sebagian anggota gerombolan disuruh keluar rumah. Satu persatu mereka disorot lampu senter oleh seorang anggota gerombolan. Begitu melewati pintu, para santri itu dibacok punggungnya dengan golok. Dengan menahan perihnya luka yang terus mengucurkan darah, para santri itu dibawa ke balai desa. Gerombolan itu pun pergi membawa para santri dan meninggalkan tubuh Ustaz Sumar yang tergeletak di samping rumahnya sendiri.

Sepeninggal gerombolan itu, berita tertembaknya Sang Ustaz cepat menyebar, terutama di kalangan keluarga dan kaum santri yang menjadi aktivis partai yang berlambang Kabah. Namun hanya segelintir orang yang berani menolong sang pendekar. Maklum, suasana politik saat itu betul-betul mencekam. Berani menolong berarti dianggap pendukung sang ustaz. Dan hal itu berarti anti pemerintah. Subversi. Keselamatan diri menjadi taruhannya.

Kyai Junaedi, salah seorang tokoh agama Desa Amis dan pengurus partai bernomor urut satu pada saat itu, datang menengok sang ustaz. Dua luka tembak itu ia tutup dengan kain yang diikat agar menghentkan pendarahan. Setelah memberikan pertolongan pertama, Kyai Junaedi pergi ke kota Indramayu. Memberitahukan pengurus partai kabupaten tentang peristiwa tragis tersebut. Sementara anggota keluarga yang lain mencari mobil untuk membawa tubuh Mang Sumar, panggilan akrab sang ustaz.

Saat itu tentu saja tidak mudah mencari orang kaya yang memiliki mobil. Apalagi di desa terpencil seperti Amis. Puskesmas pun tidak memiliki mobil ambulans. Kalaupun ada ada yang memiliki mobil, kebanyakan tak berani membawa korban penembakan itu. Lagi-lagi mereka takut dituduh membantu orang yang anti pemerintah. Akhirnya, setelah berjam-jam mencari mobil, jam 8 pagi baru tubuh Mang Sumar bisa dibawa ke rumah sakit.

Sesampai di RSU Indramayu, pihak rumah sakit menolak mentah-mentah untuk menolong sang pasien. Mereka tentu sudah diberitahu pihak tertentu agar tidak menolongnya. Akhirnya, Ustaz Sumar diputuskan untuk dibawa ke RS Gunung Jati Cirebon. Dalam perjalanan ke sana, takdir Tuhan berbicara lain. Saat mobil memasuki daerah Tegal Gubug, sang Ustaz meninggal dunia kehabisan darah. Racun yang ada di peluru juga telah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Untuk memberitahu pihak pesantren Al-Anwariyah yang menjadi tempat Ustaz Sumar mengaji dan mengajar, mobil itu pun masuk ke kompleks pesantren tersebut. Mengetahui yang dibawa adalah Ustaz Sumar, pihak pesantren meminta dengan sangat agar jenazahnya dishalatkan dan dikuburkan di komplek makam keluarga pesantren. Betapapun, Ustaz Sumar adalah santri dan ustaz terbaik alumnus pesantren tersebut. Apalagi kisah kematiannya yang tragis membuatnya dianggap sebagai syahid.

Namun pihak keluarga bersikeras untuk membawa jenazah Ustaz Sumar ke kampung halamannya, Desa Amis. Mereka akan memandikan, menshalatkan, dan menguburkan sang pahlawan mereka di sana. Akhirnya, pihak pesantren pun menyerah dengan keinginan pihak keluarga. Saat memandikannya, orang-orang mencium bau wangi dari tubuh Ustaz Sumar. Wajahnya tetap tersenyum meski badannya telah kaku. Darah-darah bekas lukanya tidak mengeluarkan bau amis sama sekali. Ya, meskipun desa tempat kampung halaman Ustaz Sumar bernama Amis. Ketika hendak dishalatkan dan dikuburkan, hanya sedikit orang yang berani ikut menshalatkannya dan ikut mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Meskipun orang-orang di Desa Amis sangat ingin ikut menshalatkannya. Tapi apalah daya, kondisi kemananan tak memungkinkan buat mereka untuk memberi penghormatan terakhir
***
Selama hidup hingga kematiannya di usia 25 tahun, Ustaz Sumar memang disenangi oleh masyarakat Amis. Ia bisa bergaul dengan semua kalangan. Bahkan terhadap para pemuda yang jauh dari nilai-nilai agama pun, ia tetap bisa bergaul. Ia bermain bola dengan para remaja di kampungnya. Ia pergi ke sawah layaknya para petani. Ia menyapa anak-anak kecil dengan penuh kasih sayang. Namanya membuat gentar para penjahat yang bersekongkol dengan penguasa lalim untuk menindas rakyat.

Sepulang dari pesantren, ia mengajar di madrasah di desa tempat tinggalnya. Ia juga mengajar mengaji Alquran anak-anak kecil seusai maghrib di rumahnya. Selepas isya ia mengajar anak-anak remaja untuk belajar ilmu-ilmu agama melalui kitab-kitab kuning. Setiap malam Jum’at, ia melaksanakan kegiatan Marhaban yang diikuti oleh para santrinya yang remaja.

Di samping mengajarkan ilmu agama yang ia peroleh dari pesantren, Mang Sumar juga aktif di sebuah partai Islam yang berlambang Ka’bah saat itu. Ia merupakan tokoh pemuda yang menjadi banyak pengikut. Aktivitas politiknya itulah yang membuatnya menjadi target operasi pihak penguasa yang otoriter saat itu. Meski tidak menjadi pemenang, partai yang ia ikuti justru meraih suara yang signifikan dalam Pemilu 1982 itu. Bahkan jauh di atas Pemilu 1977. Hal itu pula yang membuat geram para penguasa saat itu. Tampaknya, lonjakan suara itu tidak diprediksi oleh pihak penguasa. Mereka menganggap bahwa suara di Amis dan sekitarnya sudah bisa dikuasai.

Di sisi lain, Mang Sumar, yang bernama lengkap Sumarudin, juga sebenarnya menjadi korban dendam pribadi seorang oknum pengurus partai penguasa saat itu. Dendam pribadi itu lantas dibungkus oleh kepentingan politik sehingga tidak kentara di mata masyarakat. Sang oknum tersebut dendam karena Ustaz Sumar menjadi orang yang mengalahkannya dalam perebutan warisan.

Sebagaimana diketahui, dalam hukum warisan Islam (faraidh), bagian anak laki-laki adalah 2 bagian anak perempuan. Karena memang dianggap sebagai orang yang memiliki ilmu agama yang dalam, Ustaz Sumar pun diminta untuk membagi warisan keluarga sang oknum tersebut berdasarkan hukum Islam. Istri sang oknum pengurus partai berlambang beringin itu adalah salah satu ahli waris. Tak ayal, karena perempuan, bagian warisannya pun lebih kecil dari saudaranya yang lelaki.

Kini, makam Mang Sumar sering diziarahi oleh masyarakat Amis dan sekitarnya. Bahkan terkadang datang pula orang-orang dari luar Indramayu. Ia kini telah menjadi legenda masyarakat Amis. Legenda tentang keberanian seorang anak manusia untuk mengambil pilihan yang berbeda dengan pilihan penguasa yang lalim. Meskipun taruhannya adalah nyawanya sendiri. Legenda tentang orang yang tidak mementingkan keselamatannya sendiri namun lebih mementingkan keselamatan keluarga dan para santrinya. Legenda tentang seorang pendekar yang santun dan murah senyum. Ia membawa harum nama desanya, meski nama desanya itu sendiri adalah Amis. Ia telah menorehkan tinta emas dalam kehidupannya yang relatif singkat.

Meski hingga kini, tak pernah diungkap siapa pelaku pembunuh diri Ustaz Sumar, namun Sang Pemilik Kehidupan tentu akan membalas setiap kebaikan dan menghukum setiap kejahatan yang dilakukan makhluk-Nya. Kisah tragis kematian Ustaz Sumar juga merupakan sepenggal sejarah kelam tentang penguasa masa lalu di negeri ini. Penguasa otoriter yang bermimpi untuk melanggengkan kekusaannya dengan menghalalkan segala cara.