IBSN: Takut Kehilangan

IBSN adalah sebuah wadah insan Indonesia dalam jaringan internet dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesian’s Beautiful Sharing Network http://ibsn.web.id

Apa yang Anda bayangkan jika melihat seorang anak manusia tergelatak lemah di ruang ICU dalam keadaan koma? Mata tertutup rapat. Tak ada senyum. Tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Seluruh badannya penuh dengan selang dan perban. Sungguh tipis perbedaan antara berharap dan berputus asa. Bayangan ajal seolah menari-nari di pelupuk mata setiap orang yang menengoknya. Harapan untuk hidup seolah hanya seujung kuku. Berbagai perasaan yang saling bertentangan berkecamuk di dalam lubuk hati. Antara mengharapkan kesembuhan dan mengikhlaskan kepergiannya menemui Sang Khalik karena tidak tega melihatnya menderita.

Peristiwa itu kualami delapan bulan yang silam. Ibu mertua yang kucintai ditabrak motor tepat di depan rumahnya. Saat itu beliau berjalan kaki hendak pulang ke rumah seusai ikut pembacaan salawat untuk sumbangan pembangunan mesjid di desaku. Seorang anak muda yang dengan ngebut mengendarai motornya menabrak ibu mertuaku dari belakang. Darah mengucur deras dari mulutnya saat aku ikut mengangkat tubuh perempuan tua itu ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.

Kini, setelah delapan bulan berlalu, ibu mertua sudah pulang dari rumah sakit. Kini beliau dirawat di rumah salah satu rumah kakak iparku. Tentu banyak perubahan dalam rentang waktu delapan bulan itu. Kesadaran pun mulai pulih. Mata sudah bisa melihat. Anggota badan sudah mulai bisa digerakkan. Mulut pun sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata.

Dalam setiap minggu, paling tidak 3-4 tiga hari, istriku pergi meninggalkanku untuk ikut merawat ibu mertua. Aku pun tinggal di rumah bersama anak sulungku yang duduk di kelas 6 SD. Anakku satu lagi yang masih duduk di bangku TK pergi bersama sang ibu. Tak pelak, aku pun menjadi “duda” untuk sementara. Akhirnya, beberapa hari ini, saya jadi sering ditikam perasaan takut kehilangan.

Aku memang tak bisa egois untuk melarangnya pergi. Meski secara formal, aku bisa saja memaksakan kehendakku sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Tapi, bagaimanapun, hal itu bukanlah tindakan yang bijak. Aku harus belajar berbagi. Istriku bukanlah milikku yang harus kukurung di dalam rumah.

Dalam rumah tangga, memang mesti ada cinta yang mengikat hati para anggota keluarga. Suami mencintai istri dan anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya. Sampai pada titik itu, tak ada yang aneh. Namun persoalannya akan timbul jika cinta itu lantas menjadi sesuatu yang menjajah hati. Atas nama cinta, kita menjadi takut kehilangan orang yang kita cintai, entah istri, anak, orang tua, harta, dan lain-lain.

Pada tingkatan yang wajar, rasa takut kehilangan memang sesuatu yang manusiawi dan alamiah belaka. Rasa takut merupakan anugerah Tuhan agar kita waspada dalam menjalani hidup. Namun jika rasa takut kehilangan itu semakin menghantui, tentu saja hal itu akan merusak ketenteraman jiwa. Karena itulah, kita harus mampu menempatkan cinta itu pada tempat yang tepat sehingga kita terjebak pada hal-hal yang bisa menggerogoti ketenangan jiwa.

Sebagaimana para nabi yang lain dan para arif bijak bestari, Nabi Muhammad adalah manusia yang telah mengetahui hakikat hidup. Beliau telah menyelami inti hidup dan kehidupan. Karena itulah, pesan-pesan yang beliau sabdakan adalah cerminan hasil pengetahuan dan pengalaman beliau dalam mengarungi kehidupan yang dipandu oleh wahyu Ilahi. Salah satu pesan beliau adalah bahwa cinta kepada Tuhan dan Rasul-Nya harus diletakkan di tempat tertinggi dalam tingkatan cinta. Karena itulah, mencintai seseorang haruslah demi-Nya, Sang Pemilik Kehidupan.

Ada tiga hal yang jika dimiliki oleh seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Kedua, ia mencintai seseorang hanya karena Allah. Ketiga, ia benci kembali kepada kekafiran sebagai ia benci untuk dilemparkan ke liang neraka. (H.R. Bukhari).

Dalam konteks itulah, aku pun harus belajar menata hati saat menempatkan cinta kepada istri dan anak-anakku. Aku mencintai istri dan anak-anakku. Itu adalah jelas. Namun cinta itu haruslah karena Tuhan. Mengapa? Karena jika tidak, aku akan menjadi orang yang akan kecewa dan merugikan diri sendiri. Cintaku kepada istri dan anak-anakku adalah karena memang Tuhan dan Rasul-Nya memerintahkanku untuk melakukannya. Mereka adalah amanat yang Ia titipkan padaku. Saat titipan itu berada di tanganku, aku pun harus menjaga dan merawatnya dengan sebaik-baiknya dan penuh cinta serta kasih sayang.

Jika tugas itu kulakukan dengan baik, aku pun memperoleh reward dari Tuhan yang telah memberiku tugas tersebut. Reward itu bisa berbentuk macam-macam. Bisa berbentuk cinta, kasih sayang, rezeki, kesehatan, dan lain-lain. Namun jika tugas itu tidak kulakukan dengan baik, tentu aku pun akan memperoleh punishment dari Tuhan yang memberiku tugas. Punishment itu bisa berbentuk murka dari-Nya, rezeki yang seret, kegelisahan yang akut, dan lain-lain.

Namun, jika cinta tumbuh berlebihan, sehingga aku dipasung oleh perasaan takut kehilangan, maka tak ayal aku akan menjadi orang yang dirundung stres dan gundah gulana berkepanjangan. Betapapun, istri, anak-anak, harta, orang tua, dan lain-lain, bukanlah milikku. Semua itu adalah milik dari Sang Pencipta dan Pemilik Alam semesta ini. Tak secuil pun aku berhak untuk memilikinya. Aku hanya diberi tugas oleh Pemiliknya untuk merawat dan menjaga dengan sebaik-baiknya. Pada saatnya, cepat atau lambat, Sang Pemilik pasti akan mengambil kembali milik-Nya yang Ia titipkan di tangan kita.

Saat istriku pergi meninggalkanku untuk sebuah tujuan baik, aku harus merelakannya. Aku harus belajar untuk kehilangan orang-orang yang aku cintai sejak sekarang. Cintaku pada mereka harus dibangun dengan fondasi keikhlasan untuk meraih cinta dari Sang Maha Pecinta. Tak ada yang abadi di dunia kecuali Diri-Nya. Orang-orang yang aku cintai selama ini pasti akan meninggalkanku. Cepat atau lambat.

Saat fondasi keikhlasan itu sudah terbangun di lubuk hati, aku berharap manisnya iman akan mampu kurasakan. Aku harus membangun keikhlasan untuk mencintai sesama manusia hanya karena cinta kepada-Nya. Dalam bahasa yang lain, manisnya iman itu juga berarti ketenteraman jiwa. Tiada gundah dan tiada gelisah. Bukankah secara harfiah, iman bermakna rasa aman dan tenteram?
ibsntag