Si Miskin

Sebagai orang miskin, saya mesti memiliki kesadaran penuh bahwa saya tak boleh menginginkan sesuatu yang tak mampu saya jangkau. Apa yang diinginkan mestinya sesuai dengan apa yang dimiliki. Jika yang dimiliki hanya sebuah sepeda kumbang butut, tentu tidak logis jika saya menginginkan bepergian dengan sebuah mobil sedan BMW seri terbaru.

Jika memang saya orang miskin, tak perlu saya bertingkah sok kaya. Jika saya nekad bergaya sok kaya, berarti saya menipu diri sendiri dan orang lain. Saat orang-orang tahu keadaanku sesungguhnya yang miskin, mereka mungkin akan mencibir dan menghina. Mereka mungkin pula marah karena merasa tertipu.

Salah satu seni hidup adalah kemampuan untuk menilai dan mengukur diri sendiri. Jika orang mampu menilai dengan tepat dirinya, ia bisa menempatkan dirinya dengan tepat di tengah masyarakat dan di tengah gejolak masalah yang dihadapinya. Ia bisa mengelola berbagai keinginan yang muncul di benaknya. Dengan demikian, ia bisa memilah mana keinginan yang rasional dan mungkin diwujudkan serta mana keinginan yang sebaliknya.

Di sisi lain, orang miskin tentu tidak dilarang untuk bermimpi dan memiliki cita-cita. Jika orang miskin tak memiliki mimpi dan cita-cita, mungkin selamanya ia hanya menjadi orang miskin yang sering dihina orang lain. Dengan cita-cita, orang memiliki energi untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Dengan rencana yang tersusun jelas, orang bisa bekerja keras dengan efisien dan efektif untuk membangun kehidupan lebih baik.

Kemiskinan memang sering membuat orang jadi kalap dan buta mata hatinya. Seperti banyak diberitakan media massa, ada orang yang nekad menjual anaknya yang masih dalam kandungan. Ada nenek yang rela menjadi kurir narkoba. Ada ibu muda yang nekad meninggalkan tiga anaknya yang masih kecil di dalam rumah untuk bekerja di dunia malam demi mengais sesuap nasi.

Jika ditilik lebih dalam, kemiskinan yang paling mengerikan adalah kemiskinan jiwa dan iman. Orang yang miskin harta, tapi kaya dengan kebesaran jiwa dan keteguhan iman, maka ia akan mampu menghadapi seberapapun tingginya gelombang cobaan hidup. Orang yang miskin harta dan miskin jiwa, ia bisa melakukan tindakan-tindakan buruk yang mungkin jauh di luar akal sehat. Sedangkan orang yang kaya harta namun miskin jiwa, maka ia hanya akan diperbudak harta. Ia tidak akan pernah mampu meraih ketenteraman jiwa meski ia mampu membeli kesenangan di atas empuknya kasur hotel berbintang lima.

Persoalan semakin rumit jika kemiskinan dihadapkan dengan kebutuhan primer hidup. Sakit, misalnya, tidak memilih orang, entah kaya atau miskin. Ia bisa menimpa siapa saja, direktur utama perusahaan atau tukang becak. Namun, ironisnya, pelayanan kesehatan di rumah sakit tetaplah membedakan si kaya dan si miskin. Banyak orang miskin yang meregang nyawa saat layanan pengobatan tidak maksimal. Sementara biaya pengobatan begitu menjulang tinggi hingga tak terjangkau si miskin.

Pada titik inilah, kedermawanan si kaya dan kesabaran si miskin menjadi berperan penting. Di samping itu, good will penguasa untuk menyantuni si miskin juga perlu didorong oleh seluruh elemen masyarakat. Kebijakan yang berpihak ke rakyat miskin bukanlah sesuatu yang built in dalam diri penguasa, tapi sesuatu yang harus diperjuangkan oleh seluruh rakyat.