Sepenggal Cerita Usang TKW

Antri TKW

Aku telah mengenalnya sekitar 12 tahun silam saat kami sama-sama mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten untuk cabang lomba yang berbeda. Lelaki pendiam dan sederhana itu sebut saja bernama Jamal. Dalam MTQ itu, Jamal pun menyabet juara dua. Sementara aku sendiri tak meraih juara. Wajar sekali kekalahan itu, karena aku memang tak mempersiapkan diri dengan baik. Apalagi saat itu aku baru saja satu minggu menikah. Ehmm.

Usai MTQ itu, aku masih sempat beberapa kali bertemu dengan Jamal dalam beberapa kegiatan. Namun beberapa tahun terakhir ini, aku sudah tak pernah bertemu dengan si pendiam itu. Aku sempat mendengar kabar, istrinya berangkat ke Timur Tengah untuk menjadi TKW. Aku tak habis mengerti mengapa Jamal memperbolehkan sang istri untuk nekat berangkat menjadi TKW. Padahal dengan keberadaannya sebagai seorang ustaz, tentu ia mengerti bahwa perempuan dilarang untuk bepergian jauh dalam jangka waktu lama tanpa ditemani anggota keluarga.

Pada MTQ terakhir tingkat kabupaten, saya mendapat kabar, ternyata Jamal sudah tak lagi menjadi peserta. Namun ia sudah naik kelas menjadi dewan hakim. Hal itu bisa kupahami, karena nyaris setiap MTQ tingkat kabupaten yang diikutinya, ia selalu menyabet juara. Namun saat beranjak ke MTQ tingkat provinsi, ia memang selalu kalah. Prestasinya akhirnya mentok di tingkat MTQ Kabupaten.

Cerita tentang Jamal berubah menjadi balada yang memilukan saat suatu malam aku bertemu dengan seorang teman. Ia bercerita tentang nasib Jamal yang tidak jelas keberadaannya. Sudah beberapa hari ini, Jamal tidak terlihat batang hidupnya di rumah. Seorang anaknya yang masih kecil dan sebuah sepeda motor ia titipkan ke rumah sang mertua. “Hilang”nya Jamal sontak membuat geger orang sekampung. Para santri yang selama ini mengaji Qur’an di rumah Jamal, bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Beberapa orang yang mencoba melacak keberadaan Jamal, tak jua mendapat titik terang. Saat dicari ke beberapa pesantren yang diduga menjadi tempat persembunyiannya, Jamal tak jua ditemukan.

Hilangnya Jamal menyusul kepulangan sang istri ke kampung halaman setelah bertahun-tahun menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Timur Tengah. Tampaknya, kepulangan sang istri itulah yang memicu Jamal menjadi menghilang bak ditelan bumi. Betapa tidak, alih-alih membawa pundi-pundi uang dan kerinduan kepada sang suami, kepulangan sang istri justru membawa luka yang teramat dalam bagi si Jamal.

Sang istri datang bagai orang asing yang sama sekali tak dikenal oleh Jamal dan orang sekampungnya. Perempuan itu berdandan seksi layaknya artis ibukota. Dengan kaos you can see, celana jeans ketat, make up tebal, ia betul-betul membuat Jamal jadi terpana dan nyaris tak percaya. Jilbab yang selama ini melekat di kepalanya, tentu saja sudah tak ada lagi. Tak ayal penampilan sang istri berbanding terbalik dengan penampilan Jamal sehari-hari. Sebagai seorang ustaz yang hafiz Qur’an, memiliki banyak santri, anggota dewan hakim MTQ Kabupaten, Jamal terbiasa sehari-hari berpenampilan santun dengan mengenakan sarung dan kopiah.

Namun yang paling menyakitkan bagi Jamal adalah kedatangan sang istri untuk bercerai dengannya. Sang istri mengaku sudah menikah dengan seorang lelaki dari India yang juga sama-sama menjadi pekerja di Timur Tengah sana. Nasihat sang suami dan keluarga tak digubris oleh sang istri. Ia tak mau kembali kepada dirinya seperti yang dulu. Ia tak bersedia kembali kepada sang suami dan menjalani hidup layaknya seorang istri serta berpenampilan santun seperti sebelum berangkat menjadi TKW di Timur Tengah.

Akhirnya, sang istri pun kembali berangkat menjadi TKW di Timur Tengah, menemui kembali “suami” barunya di sana. Sementara si Jamal tak kuat menahan malu dan amarah. Ia pergi menenangkan diri entah ke mana. Meninggalkan anak kandungnya dan santri-santrinya yang selama ini ia ajari membaca Alquran. Membawa luka yang menganga dalam di palung hatinya.