Sang Pemuja

Mata Iin tak berkedip pada layar televisi. Vokalis KLA Project, Katon Bagaskara, sedang melantunkan tembang terbaru mereka, Roman­sa. Dan saat tayangan musik itu menghilang, Iin tak bersemangat lagi di depan televisi. Penyanyi pujaannya sudah tak tampil. Sembari rebahan di atas sofa, ia menghempaskan nafas keras.

“Hei, lihat tuh berita. Musik aja yang diperhatiin!” seru Mbak Rina begitu ke luar dari kamar.

Cerpen Ceria4“Malas, ah! Pacarku sudah nggak nyanyi lagi!” dengus Iin tanpa menoleh pada layar televisi yang mulai mena­yangkan Dunia Dalam Berita.

“Lho?! Siapa pacar kamu?” tanya Rina seraya menatap tajam sang adik.

“Katon! Baru saja nyanyi Roman­sa.”

“Ha… ha…!” Sang kakak langsung ngakak. “Kamu ngomong apa?! Sejak kapan kamu pacaran sama dia?!”

“Cerewet, ah! Mau tahu aja!” Iin bangkit dengan muka masam. Ia me­langkah menuju kamar.

Dan ketika tahu KLA Project akan mengadakan show di tempatnya, Iin melonjak kegirangan. Akan terwujud impiannya bertemu langsung dengan sang idola. Ia bisa menatap dan dekat Katon yang selama ini ia puja-puja.

Saat itu, ia berdiri di deretan de­pan. Tentu saja agar ia bisa puas menikmati segala gerak-gerik Katon dan personil KLA Project lain. Maka kala pertunjukan dimulai dan musik pun terdengar, Iin jadi histeris! Seluruh ru­angan sport hall itu digoncang gegap- gempita penonton.

Suasana kian riuh ketika seorang penonton cewek naik ke panggung dan menyodorkan seikat kembang pa­da Katon. Ah, andai aku berani, cem­buru lin dalam hati. Matanya tak henti menatap sang pujaan. Rina yang di samping lin sempat menoleh ke arah si adik yang terlalu histeris.

Sejak itu, Iin kian lebur dalam kha­yalan. Sungguh aneh. Betapa tidak, Katon adalah penyanyi top. Sudah pu­nya istri dan anak. Fans seabrek- abrek. Sedangkan dia? Hanya se­orang cewek introvert, tak pintar ber­gaul dan tak punya prestasi yang bisa dibanggakan!

Memang aneh. Tapi bagaimana la­gi? Sosok Katon seolah menjelma ma­laikat penyelamat bagi Iin dari kubang­an masa lalu. Katon bagai reinkarnasi Bowo, pacarnya dulu. Nyaris semua­nya serupa. Rambutnya yang lurus. Gigi gingsul. Kulit sawo matang. Pe­rawakan tegap. Sama-sama pemusik. Ah, sungguh aneh. Mengapa Tuhan harus menciptakan serupa seperti itu?

Kala bayangan Bowo hadir, luka itu pun mengucur kembali. Kebaha­giaan yang Iin renda bersama Bowo saat itu, harus berakhir dengan se­buah kematian mengerikan. Cowok itu tewas seketika dilindas sebuah taksi. Justru di depan mata kepala Iin sen­diri, ketika Bowo menyeberang untuk menemuinya! Ah, sebuah kenangan yang sungguh pahit untuk dikenang!

Peristiwa itu selalu membayangi Iin, walaupun sudah terjadi empat ta­hun silam saat ia di SMA. Tapi ketika ia tahu Katon, seolah sosok Bowo hi­dup kembali, Iin seperti menemukan kembali masa lalunya. Karena itu pu­la, ia merasa amat dekat dengan Ka­ton. Setiap ia mendengar lagu-lagu Katon dan KLA Project, seakan hal itu pengganti Bowo yang suka menyanyi dan memetik gitar di sampingnya dulu.

Sebenarnya lin tahu, ia harus men­cari jalan ke luar dari persoalan ini. Ia tak mungkin terus larut. Menciptakan ilusi yang kian menjeratnya. Ia harus berbuat sesuatu. Karena itu, ia pun mencoba mencari pacar baru. Ya, agar melupakan Bowo dan menghan­curkan impian tak masuk akal tentang Katon!

Hingga suatu malam Minggu, da­tang Krisna, cowok yang akhir-akhir ini sering menempel lin di kampus, lin pun menyambutnya dengan baik. Dan, ketika Krisna mengungkapkan rasa cinta, cewek itu tak menampik. Hubungan kasih pun terjalin. Mbak Rina jadi senang melihat adiknya mu­lai membuka diri.

Tapi, baru hubungan kasih itu ber­jalan dua bulan, Iin menunjukkan ulah­nya.

“Iin, cowokmu datang, tuh. Krisna,” seru Rina di balik pintu kamar Iin.

“Bilang aku nggak ada, Mbak!” sa­hut Iin ketus.

“Lho? Kamu ini gimana, sih?! Aku sudah bilang, kamu ada. Ayo, temuin sana. Malam Minggu kok malah di ka­mar!”

“Sedang malas, Mbak! Biar Mbak saja yang nemuin.”

“Ya, ampun, Iin! Dia ingin ketemu kamu. Bukan aku! Ayo, ke luar dong. Temuin sana!” Rina mulai kesal.

Iin terdiam sejenak. “Iyalaaah. Aku sisiran dulu,” akhirnya gadis itu mau juga

Ia bangkit dah dipan yang penuh berserakan majalah dan koran yang memberitakan tentang Katon dan KLA Project. Kaset-kaset dari kelompok musik itu, juga bertebaran di depan tape yang masih mengalunkan lagu- lagu mereka. Setelah sedikit rapi, Iin pun ke luar dari kamar. Sengaja ia tampil seadanya. Celana pendek mo­del Hawai dan kaos singlet!

“Hai!” sambut Iin hambar begitu tiba di ruang tamu.

“Hai,” balas Krisna sama hambar. “Kamu nggak biasanya berpakaian begini. Lagipula kita kan sudah janji mau nonton.”

“Masak sih ada janji?” Iin berlagak tidak tahu.

Krisna kian jengkel. “Kamu gima­na, sih? Tadi siang di kampus, kamu sendiri yang ngajak!” Cowok itu ham­pir berteriak menahan emosi.

“Ooh, gitu,” desis lin tenang. “Nggak jadi, deh. Aku nggak enak ba­dan. Pusing sekali. Kamu berangkat saja sendiri.”

Krisna menatap tajam lin. “Baik, kalau gitu,” ujar Krisna akhirnya, “aku pulang!” Lalu ia bangkit dari sofa dan membalikkan badan tanpa sedikit pun menoleh pada Iin.

Iin duduk terpaku. Ada sebersit ra­sa bersalah memercik di sudut hati. Mengapa aku harus berdusta? Gu­mamnya lirih. Hanya karena malam ini, ada acara musik di tivi yang me­nampilkan penyanyi pujaannya, Ka­ton.

“Kok, Krisna nggak pernah ke sini lagi?” tanya Rina suatu hari pada lin. Ya, sejak kejadian di malam Minggu itu, hubungan mereka jadi retak.

“Entah. Biarin aja,” sahut gadis itu sekenanya. Sejak awal, ia hanya ingin cowok itu sebagai pelarian dari dunia ilusinya tentang Katon dan pacarnya dulu.

“Kamu sudah bubaran sama dia?”

“Ah, Mbak! Maunya ingin tahu sa­ja! Sudah dibilang nggak ada apa-apa, masih ngotot juga.” Iin langsung pergi dari ruang tamu itu. Masuk kembali ke kamarnya sembari menenteng komik Donald Bebek.

“Hei, Iin! Ditanya baik-baik, kok, malah pergi?!” hardik Rina marah.

***

“Iin, bangun! Sudah siang! Kuliah, nggak?!” Seru Rina seraya mengetuk pintu kamar sang adik.

Tidak ada sahutan samasekali.

“Hei, Iin! Bangun, bangun!” Rina mengetuk pintu kamar lebih keras.

Masih saja tidak ada tanda-tanda lin bangun. Akhirnya Rina melangkah ke dapur.

”Bik, saya ke kampus dulu seben­tar. Lihat pengumuman,” ujar Rina pa­da Bik Inah yang sedang menggoreng sesuatu. “Nanti bangunin Iin, ya. Nggak biasanya dia begini.”

Setelah menjawab, Bik Inah me­neruskan pekerjaannya. Rumah besar itu pun kembali lengang. Sejak pagi tadi pukul enam, Bu Prita sudah be­rangkat ke kantor. Sementara Pak Hadi belum pulang dari Batam karena suatu urusan bisnis, Iin dan Mbak Rina jadi jarang bertemu kedua orangtua mereka itu. Apalagi berbicara dari hati ke hati. Nyaris tak pernah, pikir Bik Inah.

“Aduh, Non! Non Iin nggak ba­ngun-bangun juga!” Sambut Bik Inah cemas kala Rina pulang dari kampus.

“Tadi sudah Bibik bangunkan berkali- kali. Tapi tetap saja Non lin nggak bangun.”

“Masak, sih?!” Pekik Rina tak per­caya. “Nggak biasa lin tidur sampai siang begini. Hampir jam sembilan, lho!” Tergopoh-gopoh, gadis itu me­nuju kamar lin.

“Iin, bangun! Bangun!” teriak Mbak Rina sambil menggedor-gedor pintu. “Hei, bangun!”

“Ah, ini pasti ada yang nggak be­res, Bik,” desis Rina setelah berkali- kali tak ada sahutan. “Panggil Ujang, Bik! Biar didobrak saja pintu ini.”

Begitu tukang kebun itu datang dan mendobrak pintu dengan linggis, semuanya menghambur masuk. Iin masih terbaring di kasur. Tangannya mendekap poster Katon yang sudah dibingkai. Kaset-kaset KLA Project berserakan di seprei yang awut-awutan. Artikel tentang Katon di sebuah tabloid, masih terlihat jelas.

“Ada apa kamu, lin?!” Rina menggoncang-goncang tubuh gadis itu yang tetap saja diam.

Sang kakak kian panik. Wajahnya pucat kebingungan.

“Iin…,” ratapnya pasrah sambil menitikkan airmata. Baru saja ia mau memeluk si adik, tiba-tiba….

“Katon, Katon,” desis lin lemah sambil menatap nanar Rina. “Aku ka­ngen kamu. Jangan tinggalkan aku, ya.”

Iin lantas tersenyum misterius. Ke­mudian tertawa keras. Tanpa terduga, Iin lalu menangis tersedu-sedu. Rina hanya diam terpana, tak tahu harus berbuat apa terhadap adiknya, sang pemuja yang bersikap terlalu berlebih­an kepada artis idolanya.

 

Catatan: Dimuat di majalah cerpen remaja Ceria dengan nama pena Amelia Rashid.