Perdebatan Khalifah Umar bin Khattab tentang Wabah

Menurut Saif bin Umar dalam kitab al-Futuh, pada Rabi’ul Akhir tahun 18 H, Khalifah Umar bin Khattab berangkat menuju negeri Syam. Saat itu, wabah Amawas pada mulanya terjadi di bulan Muharram, Shafar, dan terus meningkat penyebarannya. Rakyat Syam lantas mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab selaku pemimpin tertinggi umat Islam. Akhirnya, Khalifah pun berangkat ke Syam untuk melihat keadaan rakyatnya saat itu.

Begitu sudah dekat dengan wilayah Syam, Khalifah mendapat berita bahwa wabah Tha’un sudah berkecamuk dengan dahsyat di sana. Dalam perjalanannya, Khalifah Umar akhirnya tiba di kota bernama Sargh, sebuah kota yang sebelumnya ditaklukkan oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Di kota itu, Khalifah Umar bertemu dengan para pemimpin pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Khalid bin al-Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Syurahbil bin Hasan, dan Amr bin Ash. Mereka mengabarkan kepada sang khalifah bahwa telah terjadi wabah di wilayah Syam.

Mendengar laporan tersebut, Umar pun bermusyawarah dengan para tokoh sahabat. “Panggilkan padaku para tokoh senior Muhajirin,” perintah sang khalifah.

Ketika para tokoh senior Muhajirin tiba, mereka pun bermusyawarah dengan Khalifah Umar. Mereka mengabarkan bahwa memang betul telah terjadi wabah di Syam. Namun mereka bersilang pendapat tentang bagaimana sikap yang harus diambil oleh sang khalifah.

“Wahai Amirul Mukminin, Anda telah berangkat untuk suatu kepentingan. Menurut pandangan kami, tidak pantas Anda pulang kembali,” demikian sebagiah tokoh senior Muhajirin berpendapat.

Pendapat itu disangkal oleh sebagian tokoh yang lain. Mereka berkata, “Anda membawa rombongan yang terdiri banyak orang biasa dan para sahabat Rasulullah SAW. Menurut pandangan kami, sebaiknya Anda tidak membawa mereka memasuki daerah wabah ini.”

“Baik. Silakan kalian semua keluar,” jawab Umar bin Khattab. Ketika para tokoh Muhajirin itu beranjak dari hadapan Umar, ia pun berkata, “Panggilkan padaku para tokoh Anshar!”

Ketika para tokoh Anshar datang dan bertemu sang Khalifah, mereka pun bermusyawarah. Ternyata para tokoh Anshar itu pun tak ubahnya seperti para tokoh Muhajirin. Mereka bersilang pendapat. Bahkan perbedaan pendapat mereka pun sama. Akhirnya, Umar bin Khattab berkata, “Sudahlah! Kalian semua keluar!”

“Panggilkan padaku siapa saja yang berada di sini yang termasuk tokoh senior Quraisy,” perintah sang Khalifah. “Mereka yang ikut berhijrah pada masa Penaklukkan Kota Mekkah.”

Setelah dipanggil, mereka pun datang menghadap sang khalifah untuk memberikan pendapat mereka. Ternyata mereka tidak ada yang berselisih pendapat kecuali hanya dua orang.

“Menurut pandangan kami, sebaiknya Anda pulang bersama rombongan dan tidak menjerumuskan mereka ke dalam daerah wabah ini,” kata sebagian besar tokoh Quraisy berpendapat.

Setelah mendengar berbagai pendapat dari berbagai kalangan tersebut, akhirnya Khalifah Umar pun mengambil keputusan. “Besok pagi, aku akan pulang. Besok pagi, kalian semua akan pulang!” putus khalifah Umar dengan tegas.

Mendengar keputusan Umar bin Khattab itu, Abu Ubaidah bin Jarrah langsung mengajukan protes, “Apakah Anda mau lari dari takdir Allah?!”

“Andai saja bukan kau yang mengatakan hal itu, ya, Abu Ubaidah!!” tukas Umar bin Khattab dengan geram. “Memang betul! Kami lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain! Coba kau pikirkan saja! Anda kau punya unta dan menggembalakannya hingga tiba di suatu lembah. Di sana terdapat dua daerah yang berbeda. Satu tandus, satu lagi subur. Jika kau menggembalakannya ke daerah yang subur, bukankah hal itu juga merupakan takdir?! Jika kau menggembalakannya ke daerah yang tandus, bukankah hal itu pun merupakan takdir?!” jelas Umar bin Khattab memberikan perumpamaan.

Sesaat kemudian, datanglah Abdurrahman bin Auf. Sebelumnya, ia tidak terlibat dalam musyawarah tentang wabah tersebut karena ada suatu keperluan.

“Aku memiliki pengetahuan tentang hal ini,” jelas Abdurrahman. “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Jika kalian mendengar wabah di suatu daerah, maka jangan kalian memasuki daerah tersebut. Jika wabah terjadi di suatu daerah dan kalian berada di dalamya, maka jangan kalian keluar untuk menghindari wabah tersebut.’”

Mendengar hadis yang diucapkan oleh Abdurrahman bi Auf tersebut, Umar bin Khattab langsung mengucapkan pujian kepada Allah. Keesokan pagi, pun ia berangkat pulang ke Madinah bersama rombongannya.

Setelah Umar bin Khattab berada di Madinah, ia pun mendengar bahwa wabah semakin dahsyat berkecamuk di Syam. Sang Khalifah lantas mengirimkan surat kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, selaku Gubernur Syam.

Semoga Anda selamat selalu. Amma ba’du. Saya memiliki kepentingan tertentu yang terkait diri Anda. Saya ingin berbicara langsung dengan Anda. Saya tegaskan pada Anda jika Anda sudah menerima suratku ini, Anda tak perlu membalasnya melalui surat lagi. Namun langsung menemuiku.

Abu Ubaidah memahami apa yang diinginkan oleh Sang Khalifah. Ia pun lantas membalas dengan mengirimkan surat kembali:

Wahai Amirul Mukminin, saya memahami kepentingan Anda pada diriku. Tetapi saya sekarang berada di tengah-tengah pasukan kaum muslimin. Tak terbersit dalam pikiranku untuk meninggalkan mereka. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka sampai Allah menetapkan putusan-Nya untukku dan untuk mereka. Karena itu, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu.

Setelah membaca balasan surat di atas, Umar pun tak mampu menahan kesedihannya. Ia menangis berlinang air mata. Orang-orang yang berada di sekitar Umar kaget melihat sang Khalifah menangis. “Wahai Amirul Mukminin, apakah Abu Ubaidah wafat?”
“Tidak!” jawab sang khalifah.

Pada gilirannya, sebagaimana catatan Ibnu al-Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh, Abu Ubaidah akhirnya benar-benar wafat terserang wabah. Tampuk pimpinan Gubernur di Syams kemudian digantikan oleh Mudz bin Jabal. Tetapi Muadz pun wafat menjadi korban keganasan wabah Amawas. Sepeninggal Muaz, jabatan gubernur diisi oleh anak Mudz bin Jabal yang bernama Abdurrahman. Lagi-lagi Abdurrahman juga wafat terserang wabah. Kepemimpinan di Syams akhirnya diserahkan kepada Amr bin Ash. Sang gubernur lantas mengambil kebijakan untuk mengisolasi diri bersama rakyat di wilayah pegunungan. Hingga akhirnya, wabah itu pun mereda.

Berita keberhasilan Amr bin Ash menaklukkan wabah di Syams akhirnya sampai ke pusat pemerintahan di Madinah. Khalifah Umar justru mengapresiasi kebijakan Amr bin Ash. Meski demikian, korban yang berjatuhan karena wabah tersebut sudah cukup banyak. Menurut Ibnu al-Atsir, jumlah korban wabah di Syams mencapai 25.000 orang!