Zubiru Jalloh, Sopir Taksi Budiman

Zubiru Jalloh

Kejujuran adalah sesuatu yang mahal di zaman modern ini saat orang cenderung sangat individualistis dan materialistis. Ketika kejujuran masih dijunjung tinggi oleh seseorang, ia pun jadi seolah orang yang aneh dan asing. Kejujuran itulah yang membuat Zubiru Jallloh menjadi pusat perhatian di Amerika beberapa hari yang lalu.

Cerita berawal saat beberapa menit setelah turun dari taksi untuk mempersiapkan perjalanan menuju Maryland, John James tersadar bahwa ia terlupa atas sesuatu. Saudara kembar dari Presiden National Arts Club, Aldon James, itu ternyata ketinggalan tasnya yang berisi perhiasan senilai 75.000 dolar dan uang tunai sebesar 200 dolar. Total nilai barang itu berarti 75.200 dolar yang jika dikonversikan ke rupiah sekitar 714 juta rupiah!

Ternyata sang pengemudi taksi itu adalah Zubiru Jalloh (42), yang tinggal di Crown Heights, Brooklyn, New York. Jalloh lalu memberitahukan kepada pihak berwajib tentang barang yang ia temukan di jok belakang taksinya pada Minggu (13/2). Akhirnya, James pun menemukan kembali barang miliknya yang sangat berharga itu.

“Dia (Zubiru) adalah seorang warga negara yang baik dalam melaksanakan pekerjaannya. Ia mendengarkan kata hatinya dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. Aku akan segera menghiburnya, serta anak dan istrinya sekembalinya aku dari Maryland,” kata James.

Seperti diberitakan situs thehuffingtonpost.com (15/2), sebelumnya dikabarkan menolak hadiah dari James berupa uang sebesar 1.000 dolar. Namun akhirnya, ia menerima hadiah tersebut. Jalloh juga menyatakan bahwa ia mengembalikan barang berharga tersebut karena terdorong oleh kepercayaannya sebagai seorang muslim.

“Jika Anda memberikan hadiah uang ini karena engkau senang, aku akan menerimanya,” kata Jalloh, yang merupakan imigran asal Sierra Leone. “Namun jika Anda memberikan uang ini hanya karena aku mengembalikan barang milik Anda, maka aku tidak sudi menerimanya, karena hal itu sudah merupakan tugasku.”

James lalu menjawab, “Aku memberikan hadiah ini karena aku senang melakukannya.”

Sebagai bentuk penghargaan kepada sang pengemudi taksi yang budiman itu, James mengundangnya untuk makan malam di National Arts Club. Namun, sang pengemudi taksi menolaknya dengan halus karena sesuai dengan kepercayaan sebagai seorang muslim, ia tak boleh mengonsumsi alkohol. Lazimnya di masyarakat Barat, setiap acara jamuan makan malam (dinner) memang menyediakan minuman beralkohol. (Sumber: thehuffingtonpost.com, newyorkpost.com)