Mudik

atu keluarga melambaikan tangan dari dalambus ketika mengikuti mudik gratis Sido Muncul di Kemayoran, Jakarta
Penumpang mudik

Menjadi orang yang tinggal jauh dari kampung halaman, memang sesuatu yang memilukan hati. Terutama saat-saat menjelang Lebaran. Terbayang betapa besarnya ongkos yang harus digelontorkan untuk mewujudkan keinginan mudik. Rasa rindu kampung halaman yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun lamanya, semakin membuncah. Tapi apalah daya. Jarak yang jauh, terpisah oleh laut dan samudera, membuat ongkos perjalanan menjadi tidak murah.

Tinggal di perantauan memang sebuah pilihan. Hujan emas di negeri orang, masih enak hujan batu di negeri sendiri. Begitulah pepatah yang sering kita dengar. Tinggal di perantauan nun jauh dari kampung halaman, tak selalu menjanjikan kehidupan menjadi lebih baik dan pundi-pundi uang semakin tebal. Kesuksesan yang didambakan tatkala merantau ke negeri orang ternyata memerlukan proses yang panjang. Menguras keringat serta air mata. Sudah berpuluh-puluh tahun di negeri orang tidak menjadi jaminan bahwa kesuksesan itu sudah berada dalam genggaman.

Begitu pula tahun ini. Rupiah demi rupiah dikumpulkan untuk ongkos mudik ternyata tak jua mencukupi. Sementara kerinduan semakian tak terperi. Terbersit sesal di sudut hati, mengapa memilih untuk merantau ke negeri orang jika harus tersiksa setiap kali muncul kerinduan terhadap kampung halaman. Tapi tak ada gunanya sesal kemudian. Kini, aku harus kembali mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk ditabung demi ongkos mudik yang kian tahun kian mahal.

Sebagai perantau, sering pula terlintas dalam hati, jika terjadi sesuatu yang buruk pada keluarga di kampung halaman, apakah kita sempat menjenguknya dengan waktu cepat. Sementara jarak yang terbentang cukup jauh dari kampung halaman. Apakah masih ada kesempatan untuk berbakti kepada orang tua yang semakin renta di kampung halaman, sementara diri ini masih saja berkutat di negeri orang untuk mengais rezeki?

Untung saja, kehidupan modern membantu komunikasi menjadi lebih mudah. Telepon dan pesan pendek bisa lumayan mengobati kerinduan terhadap orang tua dan kampung halaman. Tapi tetap saja silaturahmi secara fisik jauh lebih berarti daripada silaturahmi digital yang disediakan oleh kehidupan modern. Lagi pula, jika silaturahmi digital saja yang diandalkan lantas mengabaikan silaturahmi secara fisik, justru akan semakin mengikis ikatan erat kekeluargaan. Bersalaman, berpelukan, dan bersimpuh di hadapan orang tua, tentu tak bisa disediakan oleh komunikasi modern sekalipun.

Apa yang bisa diambil hikmah dari keadaan ini? Pikirkan baik-baik jika memang hendak merantau ke negeri orang. Jika berjiwa lemah dan sentimentil, tidak usahlah merantau jauh-jauh ke negeri seberang. Mending di kampung sendiri saja mencari rezeki. Banyak atau sedikit rezeki yang diperoleh, semuanya harus disyukuri. Menjadi perantau berarti harus berjiwa tegar. Tak perlu gundah gulana jika lantas belum memiliki biaya untuk mudik. Toh, pada saatnya, jika terus bekerja keras dan berdoa, Tuhan juga akan melempangkan jalan untuk mudik. Setinggi-tinggi terbang bangau, akan hinggap di bubungan juga.