Mata Air Air Mata

Semenjak suaminya meninggal lima tahun silam, Bi Dasmi terpaksa harus bekerja di sawah seorang sendiri.. Saat itu, kaki Mang Taskad, suami Bi Dasmi, tergilas bajak traktor. Luka pun menganga besar di kakinya hingga membusuk. Setelah bolak-balik berobat ke Puskesmas, ternyata Mang Taskad didiagnosa terkena tetanus. Usai terbaring sakit selama hampir satu bulan, akhirnya Mang Taskad pun menjemput ajalnya.

Dan pagi ini, Bi Dasmi kembali bekerja di sawah. Seperti hari-hari sebelumnya. Deru mesin traktor terdengar jelas saat membajak sawah di samping sawah Bi Dasmi. Karena tak punya uang untuk sewa traktor, ia membajak sawah sendiri dengan cangkul. Sesekali ia terbatuk-batuk hingga badannya bergetar. Puluhan burung-burung kuntul sibuk mencari makan di sawah yang sedang dibajak. Bi Dasmi masih asyik memacul sawahnya yang hanya sepetak. Paling seluas sekitar 200 bata. Sawah itu bukan miliknya sendiri tapi lanja, menyewa, dari Haji Carmin.

Matahari menyembul rendah di ufuk timur. Butir-butir embun masih bergelayutan di dedaunan padi. Hembusan angin pagi laksana jarum yang menusuk tubuh Bi Dasmi yang mungil. Ia berjalan menyusuri galang menuju sawahnya. Nyaris saja kakinya menginjak seekor ular dot yang melintas di atas galang. Seekor katak masih menggelepar dalam gigitan mulut ular itu.

“Alhamdulillah, Mang Udin tidak berangkat ke sawah,” desis Bi Dasmi dengan senyum merekah di balik wajahnya yang dipenuhi keriput. “Aku bisa mengairi sawah dengan leluasa hari ini.”

Bi Dasmi pun segera menutup saluran air menuju sawah Mang Udin. Ia lantas membuka saluran air menuju ke sawahnya. Air yang selama ini ia nanti-nantikan segera meluncur deras ke sawahnya. Ia lantas mengitari galang sawahnya. Saat menemui bobolan di galang, ia pun dengan sigap turun ke sawah dan menutupinya dengan cangkul peninggalan almarhum suaminya.

Baru sekitar setengah jam Bi Dasmi menikmati air mengalir menggenangi sawahnya, tiba-tiba datang Mang Karta. 

“Saya sudah bilang! Jangan bongkar-bongkar saluran air! Nanti juga Bi Dasmi dapat giliran,” seru Mang Karta. Ia pun turun menceburkan kakinya ke saluran air dan menutup lubang saluran menuju sawah Bi Dasmi. 

“Iya, pas lagi giliran saya, eh, ditutup saluran airnya. Dialirkan ke sawah orang lain. Gimana, sih?! Ayu, gah, dibuka, sih!” protes Bi Dasmi.

“Tidak bisa! Nanti saja!Nanti kalau airnya sudah penuh,” sergah Mang Karta dengan tegas.

Bi Dasmi hanya bisa mengomel seraya ngeloyor kembali ke sawahnya. Meneruskan mencangkul sawahnya. Namun hingga sore tiba tatkala petala langit mulai berubah jingga, Mang Udin tak juga membuka dampyang, saluran air.Air tak jua mengalir ke sawah Bi Dasmi. Akhirnya Bi Dasmi pulang ke rumah dengan perasaan dongkol. Mang Udin tak jua berangkat dari dampyang.

***

 “Kok, melamun saja? Mikirin apa, sih?” tanya Ita saat duduk bersama dengan Bi Dasmi di amben bambu teras rumahnya.

“Sudah tiga hari ini, sawahku belum dapat air juga,” jawab Bi Dasmi sembari meletakkan capingnya di lantai tanah rumahnya. Memikirkan sawah membuat Bi Dasmi seperti menggali mata air yang mengalirkan air mata yang tak berkesudahan.

“Ooh. Kok bisa begitu?” sergah Ita yang baru dua bulan ini pulang dari Taiwan. Setelah bercerai dan ditinggal kawin oleh suaminya tiga tahun silam, ia lantas menjadi TKW di negara itu

“Rebutan saja sama Mang Udin,” jelas Bi Dasmi menyebut nama seseorang yang selama ini biasa menggarap sawah di samping sawah Bi Dasmi. “Dampyang-nya ditutup saja. Nggak bisa mengalir ke sawahku.”

“Lha, kan mestinya giliran?!”

“Iya. Mestinya begitu. Tapi, begitulah Mang Udin. Sakarepe dewek! Nggak mau bagi-bagi air.”

“Laporkan aja sama Mitra Cai atau Pak Kuwu!” saran si janda muda itu.

Bli kiyeng,” sahut Bi Dasmi menegaskan keengganannya. “Meskipun lapor, tidak akan berpengaruh apa-apa.” Bi Dasmi memijit-mijit kepalanya yang terasa pening. “Maka, hutang pupuk di toko Haji Warma kudu dibayar. Lanja kudu dibayar ning Haji Carmin.”     

“Terus priben?” imbuh Ita.

“Bli priben-priben. Bingung aja mikir air. Kalau musim sadon ini, tidak panen, hutang tambah menumpuk. Apalagi, bank harian nagih terus tiap hari.

***

“Bi, mau ke mana malam-malam?”tanya Ita,. 

“Lha, ini kan bawa cangkul. Mau ke sawah. Cari air,” jawab Bi Dasmi.

“Semangat banget, Bi,” komentar Ita sembari menarik ujung bawah kaos you can see-nya yang ketat. “Sudah tua, Bi! Minta tolong aja sama orang lain yang biasa kerja di sawah. Minta dikawal airnya. Beres.”

“Sempat sih mau nyuruh Mang Belo, yang biasa kerja di sawah Haji Carmin. Tapi, tetap aja, berarti kan aku harus membayarnya. Mau nyuruh anak, gak punya anak,” sergah Bi Dasmi dengan senyum kecut. Meski sudah tiga kali menikah, ia tak pernah memiliki punya anak. Orang-orang bilang, ia gabug, seperti padi yang tak ada isinya. 

“Pake pompa bae, sih, Bi,” saran Ita lagi. Selama ini, janda itulah yang sering menjadi teman curhat Bi Dasmi. 

“Pompanya siapa? Mau beli, nggak punya duit. Lagian sawah cuma dapat lanja.”

Akhirnya, pada malam itu, Bi Dasmi nekat berangkat ke sawah. Ia sudah bertekad untuk berjuang mendapatkan air. Sawahnya lagi membutuhkan air karena padi baru berumur sepuluh hari. Karena musim rendeng sudah lewat, dan kini memasuki musim ketiga, tak ayal hujan pun jarang turun. Kalaupun turun hujan, airnya tidak cukup untuk mengairi sawah Bi Dasmi.

Sesampai di sawah, ternyata sudah banyak orang yang juga lagi mencari air.

“Mau ngapain, Bi? Malam-malam datang ke sawah?” tanya Mang Udin yang sedang duduk di atas galang di pinggir sawah seraya mengepulkan asap rokok kelobot.

“Ya, mau cari airlah,” jawab Bi Dasmi ketus. “Sampean masih cari air aja. Kan sudah dari tadi siang ngunggahi, masak masih kurang saja airnya?!”   

Lha wong, airnya mengalir kecil. Gimana mau penuh sawah?”    

Dari kejauhan di ujung sawah, Mang Marta datang. Cahaya rembulan purnama jatuh di topi Mang Marta, sehingga tampak jelas tulisan Mitra Cai, nama jabatan untuk aparat desa yang mengurus irigasi.Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan bagaikan konser alam. Lelaki paruh baya itu mendekati Bi Dasmi.

“Bi Dasmi, malam ini, air nggak akan datang. Sekarang giliran desa sebelah,” jelas Mang Marta.

“Waduh! Yang bener, sih?!” tanya Bi Dasmi.

“Iya! Mereka kan sudah bayar,” terang Mang Marta.

“Bayar berapa?! Bayar ke siapa?” Mata Dasmi mendelik. 

“Alaah!” cibir Mang Karta seraya menepiskan tangannya di udara. “Seperti tidak tahu saja, Bi Dasmi ini. Pokoknya, nanti kita kan urunan banyak orang.”

“Jadi saya bayar berapa?”

“Seratus ribu saja. Kalau yang punya sawah di sekitar sini, kalau mau dapat air, yang harus ikut bayar urunan. Kalau sudah bayar, nanti juga dikasih air.”

Ya, wis. Nanti aku cari hutangan dulu.”

“Nah, begitu, dong, kalau pengen dapat air!”

***

 “Bi Dasmiiii!” terdengar teriakan dari kejauhan. “Gantian, sih, airnya! Saya bobol nih kalinya,” ancam Mang Udin. Lelaki bertubuh gempal pendek itu sedang menutupi saluran air ke sawah Bi Dasmi, dan membuka saluran air ke sawahnya sendiri.

“Jangan, Mang! Sawahku belum penuh airnya. Sebentar lagi juga penuh,” jawab Bi Dasmi sembari beranjak menyusuri galangan sawah ke arah saluran air.

“Sudahlah. Saya malah belum dapat air sama sekali. Gantian!” sergah Mang Udin. Ia tak beranjak dari saluran air.

“Nanti dulu, sih, Mang! Tanggung! Saya lagi ngunggahi,” seru Bi Dasmi dengan nada bergetar menahan amarah. Ia tarik tubuh Mang Udin yang sedang menutupi saluran air menuju sawahnya.

“Eeh, sampean berani-beraninya!” Mang Udin berbalik badan dan langsung berdiri menghadapi Bi Dasmi. Matanya melotot tajam. Kedua tangannya terkepal siap melayangkan pukulan.

Sebelum pukulan Mang Udin mendarat di mukanya, Bi Dasmi melangkah mundur. Wajahnya memucat melihat sorot tajam mata Mang Udin dan kepalan tangannya.

 “Kalau bukan perempuan dan orang tua, sudah saya pukul sampean,” ujar Mang Udin. Terdengar suara dengus suara lelaki itu dan gemeretak giginya yang menyatu.

“Silakan aja kalau memang mau mukul saya. Kalau memang kamu tega memukul perempuan,” tantang Bi Dasmi.

Mang Udin terdiam sesaat. Tiba-tiba ia terbayang ibunya yang juga seorang petani pekerja keras persis seperti Bi Dasmi. “Bi, sampean kan sudah tua!” nada suara Mang Udin melunak. “Nggak usah kerja nyawah lagi. Di rumah aja! Ikut pengajian, kek!”

***

“Sudah dapat hutangan, belum?” tanya Mang Marta keesokan hari saat bertemu Bi Dasmi di sawah.

“Belum,” jawab Bi Dasmi lemah. Butir-butir keringat membasahi wajahnya. Cotom-nya tak mampu menghalangi panasnya terik mentari di siang itu.

“Lha, gimana, sih? Masak cari utangan seratus ribu saja, nggak dapat?!” sergah Mang Marta mengepulkan asap rokoknya ke udara.

“Iya buat sampean, seratus ribu itu kecil. Buat saya mah, seratus ribu juga gede!”

“Kan udah dibilangin. Kudu bayar. Tidak ada yang gratis!”

“Saya sudah mutar-muter cari hutangan, belum dapat. Mau pinjem lagi sama Ita, juga saya sudah malu. Hutang sudah banyak.”

“Ya, terserah! Kalau nggak mau dapat air, ya nggak perlu bayar! Jangan bermimpi bisa panen!” bentak Mang Marta dengan jari telunjuk menuding tepat ke muka Bi Dasmi.

***

Setelah sekitar empat bulan melewati masa-masa menanam padi, akhirnya sawah Bi Dasmi pun memasuki masa panen. Namun justru pada saat panen inilah, Bi Dasmi justru jatuh sakit. Ia terbaring di atas kasur yang sudah tipis dan warnanya yang sudah tidak jelas. Di atas kasur itu, tergantung kelambu yang di sana-sini terdapat tambalan. Warna putihnya memudar karena dilapisi oleh debu. Bau pesing menyeruak dari dalam kamar itu. Sepasang kecoa berjalan hilir mudik di pojok. Sarang laba-laba bergelantungan nyaris di setiap sudut atas langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu.   

“Sakit apa, sih, Bi Dasmi?” tanya Ita, saat menengok tetangganya itu.

“Asmaku kumat, Ta.” Suara Bi Dasmi nyaris tak terdengar ditimpa oleh suara nafas yang tersengal-sengal.  

“Terus siapa yang ngurus panen?”  

“Mang Belo.”

Sesaat kemudian terdengar suara orang dari luar, “Assalamu’alaikum.”

“Waalaikum salam,” jawab Ita. “Ada tamu, Bi,” lanjutnya seraya menatap lekat wajah Bi Dasmi.

“Ya, dibukakan saja pintunya,” perintah Bi Dasmi dengan suara lirih.

Ita beranjak dari kasur dan melangkah menuju pintu rumah.

“Oh, ada apa, Mang Belo? Silakan masuk dulu,” kata Ita seraya membuka pintu sembari sedikit mengangkatnya. Terdengar suara “kreot” karena engsel pintu yang sudah copot satu.

Mang Belo melangkah masuk. Ia mencium aroma tanah dari lantai yang lembab. “Enaknya duduk di mana, nih?” Mang Belo agak kikuk karena tak ada kursi tamu di rumah Bi Dasmi.

“Duduk di sini aja. Di kasur dekat Bi Dasmi,” saran Ita yang duduk di pinggir kasur dekat kepala Bi Dasmi.

“Jadi, saya mau laporan tentang hasil panen, Bi,” jelas Mang Belo usai menjatuhkan pantatnya di pinggir kasur Bi Dasmi. Sesekali ia menggaruk pantatnya karena gatal. Mungkin karena ada kutu di kasur itu.    

“Gabahnya dapat dapat berapa kuintal?” tanya Bi Dasmi sembari menegakkan bantalnya untuk tumpuan kepalanya yang sudah dipenuhi uban.

“Dapat tiga belas kuintal, Bi.”

“Sudah dikurangi catu?”tanya Bi Dasmi tentang upah gabah bagi buruh tani ikut memanen padi.

“Sudah, Bi.”

“Duh, dapat sedikit sekali, ya?”

“Ya, namanya juga sadon, Bi,” jelas Mang Belo. Sadon adalah musim tanam kedua yang biasanya jatuh di musim kemarau. “Tidak akan sebanyak waktu musim rendeng.”

“Iya, saya tahu. Cuma saya keder. Tidak cukup untuk bayar hutang pupuk di toko Haji Warma sama hutang sama Ita. Belum sama yang lain-lain.”

“Hutang di saya tidak usah dipikirkan, Bi,” sergah Ita. “Untuk bayar di Haji Warma aja dulu.”     

“Gabahnya mau langsung dijual atau dijemur dulu?

”Dijual saja sama Haji Carmin. Lagi pula, kalau dijemur, siapa yang ngurus? Saya sudah tidak kuat.” 

“Terus begini, Bi,” lanjut Mang Belo. “Saya juga disuruh Haji Carmin ngasih tahu. Tahun depan, lanja sawahnya distop dulu.”

“Lho, emang kenapa, Mang?”

“Tahun depan sawahnya mau digarap sendiri sama Haji Carmin, Bi,” jelas Mang Belo. “Sawahnya dikasihkan ke anaknya sendiri, Titin, yang baru menikah minggu lalu. Bi Dasmi tidak perlu repot lagi memikirkan sawah. Lagi pula, sekarang kan Bi Dasmi sudah sakit-sakitan.” “Terus untuk biaya hidup saya selanjutnya gimana?” tanya Bi Dasmi. Tatapannya nanar ke arah langit-langit rumahnya. Tak terasa air matanya mulai menetes