Lowongan Kerja Baru: Caleg

Kartun calegPemilu tinggal beberapa hari lagi, tepatnya 9 April 2009. Banyak orang berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk menduduki kursi legislatif. Sekian ribu orang seluruh Indonesia memasang tampangnya di pinggir-pinggir jalan. Mereka seolah begitu percaya diri bahwa rakyat akan memilih dirinya. Kita seolah disuguhkan sebuah fenomena narsisme yang begitu masif dan menyesaki ruang publik.

Menjadi calon legislatif lantas kelak dilantik sebagai anggota legislatif tampaknya menjadi idaman banyak orang di negeri ini. Begitu banyak partai hingga berjumlah 38 ditambah 6 partai lokal di Aceh. Saking banyaknya, partai-partai itu seolah menjadi wadah yang besar sehingga semua orang dari berbagai kalangan bisa masuk. Wadah itu menjadi tempat penampungan ambisi orang-orang yang ngebet meraih kursi anggota dewan.

Karena banyaknya partai itu pula, maka para petinggi partai pun kesulitan menjaring para caleg yang berkualitas, terutama untuk caleg di tingkat kabupaten/kota. Betapa tidak, para caleg yang berkualitas biasanya sudah merapat lebih dulu ke partai-partai besar yang lebih menjanjikan. Sementara partai-partai gurem yang pendatang baru, atau pendatang baru tapi berwajah lama, memang kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Tak ayal, partai-partai itu gurem pun terkesan asal comot saja dalam mendaftarkan para calegnya untuk bertanding di Pemilu 2009.

Hal ini tentu saja sesuai dengan kebiasaan yang terjadi dalam dunia kerja. Semakin banyak peluang, semakin banyak pula orang yang bisa mengambil peluang itu, dan persaingan pun semakin longgar. Dengan kata lain, semakin kecil pula kualitas orang yang terjaring. Namun jika peluang kecil, maka semakin sedikit pula orang yang terjaring, dan persaingan pun semakin ketat. Dengan kata lain, penjaringan pun semakin ketat sehingga orang-orang yang terpilih relatif lebih berkualitas.

Selama postur kepartaian di negeri ini masih saja besar, maka selama itu pula akan bermunculan caleg-caleg yang tidak berkualitas. Karena peluang menjadi caleg terbuka lebar, maka orang-orang pun berduyun-duyun mendaftarkan diri. Menjadi caleg seolah sekarang menjadi profesi yang diidam-idamkan. Menjadi caleg seolah lowongan kerja baru yang menyedot perhatian sekian banyak orang.

Terus terang, saya khawatir, orang-orang yang menjadi caleg itu memang sebenarnya bertujuan untuk mencari kerja. Terdapat semacam keinginan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Atau mungkin saja untuk menerapkan aji mumpung yang telah mereka pelajari sejak Orde Baru. Mumpung jadi anggota legislatif, maka pergunakanlah kesempatan sebaik-baiknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mungkin juga sebenarnya mereka memang sudah menanti-nanti kesempatan sejak lama untuk ikut berkorupsi ria seperti DPR sekarang ini. Jika selama ini mereka hanya penonton atas tingkah orang lain yang berkorupsi ria dan menjadi kaya, maka mereka pun ingin melakukan hal yang sama. Jika selama ini mereka berteriak-teriak anti korupsi, hal itu lebih karena mereka tidak memiliki kesempatan yang sama saja. Jika ada kesempatan, mungkin mereka justru lebih gila dalam melakukan korupsi.

***
Sebagai contoh, mari kita lihat profil para caleg di tempat tinggalku sekarang. Ada seorang tetanggaku yang juga kini menjadi caleg. Sebut saja namanya Kahrudin Ia adalah seorang pedagang tempe yang biasa mengantarkan pesanan tempe ke warung-warung di kecamatanku dan berbagai kecamatan tetangga. Dengan motor bututnya, ia pun mengelilingi kecamatanku dan sekitarnya demi menghidupi anak dan istrinya.

Sebagai anak muda, ia juga sering begadang dan mabuk bareng bersama teman-teman pemuda. Terkadang kegiatan begadang itu diselingi dengan berjudi dengan main kartu. Untung saja, sekarang pemerintah setempat telah melarang peredaran miras hingga sang caleg pun kesulitan menyalurkan hobi mabuk dan judinya. Beberapa waktu lalu, memang banyak korban berjatuhan usai pesta miras.

***
Lain lagi dengan tetanggaku yang juga sekarang menjadi caleg dari partai yang mengaku partai wong cilik. Biar saya tidak dianggap mencemarkan nama baik, kita sebut saja namanya Wahyono. Ia memang telah lama berkecimpung di partai dan menjadi pengurus tingkat kabupaten. Sebelum secara resmi terdaftar sebagai caleg, ia adalah seorang distributor besar minuman keras. Namun demi menjaga nama baik dan meraih simpati rakyat, ia menghentikan usaha sebagai juragan miras itu. Apalagi sang kapolsek juga mengancam akan membongkar kasusnya, jika ia tidak berhenti berdagang miras.

Namun terus terang, saya tidak tahu persis usahanya yang sekarang. Namun yang jelas, ia termasuk orang kaya di tempatku. Mobilnya ada dua dan motornya ada tiga. Sebagai seorang kaya, ia memiliki istri simpanan, seorang mantan PSK yang kini telah naik pangkat menjadi seorang germo. Sang caleg sendiri adalah mantan pelanggan sang istri simpanan saat masih aktif menjalankan tugas tidak mulianya sebagai seorang PSK. Dari hasil hubungannya itulah, ia memiliki seorang anak.

Sebagai orang yang suka bergaul dengan anak muda, sebelum jadi caleg ia juga suka main kartu di warung di depan rumahnya. Tentu saja, ia bermain kartu dengan imbalan uang. Ya, judi kecil-kecilan. “Kalau nggak ada uangnya, nggak rame,” begitu alasan mereka saat pernah kutanyakan. Saat musim kampanye tiba, ia pun sering mengadakan pertemuan di rumahnya hingga larut malam. Sayang sekali, istrinya agak pelit untuk menyediakan kopi dan rokok bagi anak-anak muda yang nongkrong di rumahnya. Lama kelamaan, sebagian anak muda, terutama mereka yang tinggal di sekitar rumahnya, mulai menjauh dan malas berkumpul di rumahnya.

***
Ada lagi seorang caleg antik yang sebut saja bernama Superman. Selama ini ia berprofesi sebagai seorang tukang pijit keliling. Dengan mengendarai sepeda onthel kebanggaannya, Superman beberapa kali mampir ke warung fotokopi dan rental komputer yang ada di depan rumahku. Aku pun sempat berbincang-bincang dengan tokoh satu ini. Pada pemilu 2004 silam, ia menjadi seorang pengurus sebuah partai yang menggunakan jargon bersih, peduli, dan profesional. Meski menjadi pengurus kecamatan dari sebuah partai yang berasaskan Islam, Superman tidak pernah shalat. Paling kalau pun melakukan shalat, itu pun ia lakukan di saat shalat Jum’at saja. Lumayan, seminggu sekali.

Kini caleg tukang pijit ini mewakili sebuah partai gurem yang didirikan oleh seorang putri jenderal pahlawan. Mungkin daripada tidak ada yang mengisi, akhirnya Superman ditaruh sebagai caleg di daerah pemilihan (dapil) yang mewadahi tempatku. Kemungkinan besar, ia memang tidak terpakai lagi di partai sebelumnya yang kebanyakan beranggotakan kaum santri perkotaan. Sementara Superman sendiri tidak pernah shalat. Wajar saja jika ia kemudian ditolak jadi pengurus dan menjadi caleg dari partai Islam tersebut.

Saat gadis pembantu di rumahku melintas, ia pun bertanya padaku, “Pak, dia sudah punya pacar belum? Boleh nggak saya pacaran sama dia?”

Waduh! Aku langsung berfikir, “Gimana nanti jika ia sudah jadi anggota legislatif?! Berapa banyak perempuan yang akan ia pacari?! Belum apa-apa aja sudah menebarkan ranjau cinta ke pembantuku.”

Saat kutanyakan kepada sang pembantu, “Kamu mau nggak jadi pacar si caleg itu?”

“Nggak mau, Pak! Emoh!” jawab si pembantu tegas.

“Lho, kok nggak mau? Dia kan caleg. Sebentar lagi kaya lho?” tanyaku dengan nada bercanda.

“Pokoknya, emoh!” sungut Juminten sembari berlalu.

***
Ada lagi caleg lain yang dulu pernah menjadi muridku saat aku mengajar sebagai guru honor di sebuah SLTA di kampungku. Dengan takzim, Sukardi, sebut saja namanya begitu, berkali-kali datang ke rumahku untuk minta doa restu agar berhasil terpilih. Tentu saja, saya mendoakannya. Sang caleg berasal partai yang suka pamer para kyai di berbagai balihonya. Ia memang orang yang sangat percaya diri. Meski tidak memiliki budget besar untuk membiayai kampanye, ia tetap berusaha mengiklankan dirinya. Ia sebarkan fotokopi foto dirinya dalam secarik kertas HVS. Tentu saja hitam putih. Kalau membuat baliho foto dirinya yang full colour, ia tampaknya tak mampu membiayainya.

Saya taksir, umur sang caleg belum genap tiga puluh tahun. Terlalu muda, menurut saya. Apalagi pengalaman berpolitiknya masih sangat kurang. Saat kutanya apa tujuan pokok seorang anggota legislatif, ia hanya melongo tak mampu menjawab. Yah! Ketika mencuat kasus Syekh Puji yang mengawini anak di bawah umur, Sukardi dengan tegas mendukung tindakan Syekh Puji.

“Syekh Puji itu sudah menyumbangkan banyak untuk pesantren-pesantren di Jawa Timur,” begitu salah satu alasannya saat kutanya. Wah!

Sang caleg satu ini berstatus jomblo setelah ia bercerai dengan sang istri yang kabur menjadi TKW di Arab Saudi. Tinggallah sang caleg mengasuh sendirian seorang anak perempuan kecil. Mungkin tidak tahan hidup menduda apalagi ia seorang caleg, ia pun tertarik untuk mencari pasangan baru. Sayang sekali, saat ia menjatuhkan pilihan kepada (lagi-lagi) pembantuku, sang pembantu menolak keras. Sama seperti kepada caleg tukang pijit, Juminten, pembantuku, dengan tegas menolak keinginan caleg untuk memperistri dirinya.

***
Aneh-aneh memang para caleg kita. Ada lagi caleg yang menarik perhatian saya. Sebut saja bernama Rujianto. Ia adalah pensiunan PNS yang pernah menduduki kepala SD dan kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Diknas di kecamatanku. Meski tampaknya, ia berasal dari keluarga kaya dan bergelar haji, ia masih suka meminjam uang kas Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) di desaku. Sebagai bendahara, saya sempat menolak keras permintaan pinjamannya. Hal itu karena saya juga sudah mendengar sepak terjang yang suka menggerogoti uang kas DKM di kepengurusan periode sebelumnya. Namun karena terus-terusan meminta dan juga didukung oleh sang ketua DKM, akhirnya saya pun mengalah dan meluluskan permintaan pinjamannya. Ternyata setelah sekali diberi pinjaman, ternyata sang caleg jadi ketagihan. Ia jadi sering ingin meminjam uang kas DKM. Repotnya, pinjaman-pinjaman itu tak jua dilunasi. Akhirnya, daripada pusing-pusing, saya pun meletakkan jabatan sebagai bendahara DKM. Kini setelah sang tokoh ini menjadi caleg, saya pun berfikir, “Gimana nanti kalau ia jadi caleg? Bisa-bisa ia menjadi seorang tokoh korupsi di garda depan.”

Dengan mengandalkan menantunya yang menjadi orang nomor satu di pemerintahan kecamatan, Rujianto percaya diri ia akan terpilih. Ia berharap sang menantu menggunakan birokrasi untuk mengarahkan rakyat agar memilih dirinya. Namun, kebanyakan orang juga sudah mengetahui bagaimana tingkah polah Rujianto. Hal itu misalnya terjadi saat seorang anak muda tertangkap karena berjualan ganja. Orang tua anak muda itu lantas meminta bantuan Rujianto, yang dianggap sebagai seorang tokoh masyarakat. Bantuan itu dimaksudkan agar si anak muda tidak diproses melalui jalur hukum dan bisa dibebaskan dari sel kepolisian. Namun apa yang terjadi? Meski sudah diberi uang sekian juta, si anak muda tak jua bisa dibebaskan oleh Rujianto. Uang itu pun bablas angine.