Korban Kejahatan

Akhir-akhir ini berita kematian Muammar Khaddafi banyak menghiasi media massa. Mantan pemimpin Libya yang telah berkuasa selama 42 tahun itu akhirnya meregang nyawa secara tragis. Ia ditangkap beramai-ramai, digebuki, lantas ditembak mati dari jarak dekat oleh rakyatnya sendiri yang murka.

Kasus tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak peristiwa kejahatan yang terjadi di muka bumi ini. Banyak orang yang mati terbunuh. Tapi kematian tersebut ditanggapi dengan sikap berbeda-beda oleh orang yang hidup. Ada yang justru diberi penghormatan dan disambut dengan duka cita yang mendalam oleh orang-orang yang hidup. Ada pula yang justru sebaliknya, disambut dengan riang gembira dan rasa syukur.

Kehidupan memang perjalanan panjang menuju kematian. Dalam perjalanan itulah, orang bisa memilih bagaimana ia bersikap dan mengatur tingkah lakunya. Orang yang terbiasa tidak mengindahkan aturan dan hukum dalam bertindak, ia berarti berani mengambil resiko atas keselamatan hidupnya. Hal itu karena aturan, hukum, dan etika sebenarnya diciptakan demi keselamatan hidup manusia dan lingkungannya.

Dengan akal pikirannya, manusia merupakan makhluk yang memiliki kebebasan untuk memilih. Orang yang terbiasa bergaul dengan teman-teman yang terbiasa melanggar aturan, lambat laun ia pun menganggap tindakan melanggar aturan adalah sesuatu yang biasa. Tanpa disadari, ia pun dengan enteng ikut melanggar aturan. Adalah sesuatu yang tidak aneh, jika suatu saat ia justru jadi korban dari kejahatan teman-temannya yang terbiasa melanggar aturan itu.

Orang yang terbiasa tidak mengindahkan aturan, menafikan arti kesetiaan, selalu mencari kesenangan sesaat, akan merasa senasib seperjuangan dengan para penjahat. Perempuan yang bercerai karena melakukan perselingkuhan, ia akan mudah bertemu dengan lelaki hidung belang yang tak menjadikan kesetiaan sebagai prinsip hidupnya. Akhirnya, tak aneh jika saat sang perempuan hamil lantas meminta pertanggungjawaban kepada si lelaki hidung belang, si perempuan justru dibunuh.

Sebagaimana orang yang terbiasa berada di lingkungan air, tidak aneh jika ia kecipratan air atau bahkan jadi basah kuyup. Orang yang terbiasa berada di lingkungan api, adalah wajar jika suatu saat ia tersambar api atau bahkan hangus terbakar. Demikianlah hidup. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih di lingkungan mana ia hidup.

Tentu adalah hal yang berbeda jika dikaitkan dengan persoalan tugas dan kewajiban. Polisi yang memiliki tugas untuk memberantas kejahatan tentu terbiasa menghadapi para penjahat yang biasa melanggar aturan dan hukum. Jika suatu saat sang polisi tewas terbunuh di tangan penjahat ketika melaksanakan tugas, kematiannya menjadi suatu kehormatan. Tapi jika bukan karena tugas, seorang bergaul dengan penjahat, lantas ia mati dibunuh oleh sang penjahat, maka kematiannya bisa menjadi bahan cibiran.

Mereka yang begitu mendewakan kebebasan sering kali menganggap aturan, hukum, etika sebagai hal-hal yang mengungkung kebebasan mereka. Aturan, hukum, etika, dan agama tidak menjadi sumber rujukan mereka dalam menentukan tindakan dan perilaku. Jika suatu saat, ia memperoleh sanksi dari masyarakat karena sikapnya yang melanggar aturan itu, maka hal itu adalah wajar adanya. Namun sering kali orang tidak konsisten dengan sikapnya yang melanggar aturan. Ia protes jika suatu saat dihukum oleh masyarakat dengan dikucilkan, dicap amoral, dijebloskan ke penjara, dan lain-lain.

Jika seseorang tak ingin menjadi korban kejahatan, adalah logis agar ia tak mendekati lingkungan yang banyak terjadi kejahatan dan tak bergaul orang-orang yang terbiasa melakukan kejahatan. Jika seseorang ingin hidupnya selamat, maka sudah semestinya ia melakukan hal-hal yang bisa menyelamatkan hidupnya. Jika tak ingin dicap sebagai penjahat, maka sudah semestinya orang menghindari perbuatan jahat, dan melakukan perbuatan sebaliknya, yaitu kebaikan.

Terkadang sekuat apapun orang berusaha menghindari kejahatan, ia bisa saja menjadi korban kejahatan. Perempuan yang sudah merasa aman di rumah, bisa saja ia diperkosa oleh perampok yang menyatroni rumahnya. Pada titik inilah, manusia dihadapkan pada kekuasaan Tuhan, Sang Juru Selamat. Setiap saat orang mestinya memasrahkan hidupnya kepada Sang Pemilik Hidup seusai ia berupaya secara lahiriah untuk menyelamatkan dirinya.

Namun hal itu tidak lantas membuat orang menjadi pengecut menghadapi hidup. Ketika seseorang melakukan kebaikan yang luhur dan bermanfaat bagi banyak orang, adalah tak terhindarkan jika kemudian ia justru menjadi musuh bagi orang-orang yang terbiasa berbuat kejahatan. Para pimpinan KPK di negeri ini tentu mengalami hal tersebut. Betapa mereka justru menjadi musuh para koruptor.

Orang yang berani melakukan kebaikan yang luhur dan bermanfaat bagi banyak orang seperti itu, suatu saat ia bisa saja menjadi korban pembunuhan oleh kekuatan jahat yang merasa dirugikan oleh kebaikannya. Namun, pada saat itulah, kematiannya justru menjadi kehormatan baginya. Keberaniannya menghadapi resiko justru mengharumkan namanya di hadapan masyarakat.