Istri Menteri

Mungkin, semua teman sekelasku saat itu tak ada yang menduga kelak ia menjadi seorang istri menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II sekarang ini. Ia memang termasuk gadis yang paling cantik di kelasku. Namun ia bukan termasuk perempuan bintang kelas yang indeks prestasinya di atas rata-rata. Ia juga bukan aktivis kampus yang malang melintang di organisasi kemahasiswaan dan pintar berorasi. Ia hanyalah anggota biasa dari sebuah organisasi pergerakan mahasiswa.

Perjalanan hidup Hartini –sebut saja namanya begitu– mulai berubah saat ia dipersunting Cak Amin. Hal itu mungkin sebuah kebanggaan tersendiri buat Hartini. Betapa tidak. Cak Amin adalah seorang aktivis kampus tampan yang sedang bersinar dari UGM. Pun, Cak Amin adalah seorang kerabat kyai besar di Jawa Timur dan juga pimpinan organisasi mahasiswa yang diikuti diriku dan Hartini. Tak terasa, Hartini mulai menjaga jarak dengan teman-temannya. Apalagi saat itu, sebagian teman-teman seangkatan kami sudah menyelesaikan kuliah.

Suatu saat, aku bertandang ke rumahnya di kawasan kompleks menteri. Saat itu sang suami belum menjadi menteri, namun masih menjadi salah satu pucuk pimpinan DPR. Sebagaimana layaknya perumahan pejabat, aku pun bersama dua orang teman, harus bersabar menunggu di luar. Terlebih dahulu, kami diperiksa macem-macem oleh satpam. Aku berusaha memakluminya meski dengan sedikit dongkol.

Hampir 15 menit lebih, kami menunggu, akhirnya sang teman pun keluar menemui kami. Dia mempersilakan kami masuk dengan ramah. Kami lantas ke ruang tamu yang cukup besar dengan puluhan sofa. Kupikir, beginilah rumah pejabat yang terbiasa menerima sekian banyak tamu sehingga tempat duduk pun banyak berjejer.

Setelah kami duduk, kupikir kami akan segera bisa mengobrol dan berhaha-hihi dengan si teman lama. Ohoi. Ternyata sang isteri pejabat itu kembali ke ruang dalam. Sesaat kemudian, seorang pembantu mengantarkan minuman dan kue kecil. Tanpa menunggu dipersilakan, aku meminumnya dan diikuti kedua temanku. Tentu saja kami merasakan haus usai melewati perjalanan yang cukup jauh. Ah, dasar orang udik!

Sang istri pejabat tak jua menampakkan batang hidungnya meski minuman sudah hampir habis. Aku dan teman-teman sudah mulai gelisah. Waduh, betapa susahnya bertamu di rumah pejabat. Saat kegelisahan kami mulai memuncak, sementara waktu sudah mulai sore, akhirnya sang istri pejabat itu menemui kami dengan senyum ramah seraya meminta maaf atas lamanya kami menunggu. Aku berusaha berfikir positif saja dengan senyum ramahnya. Meski terasa ada yang lain dengan Hartini yang kukenal dulu saat di kampus.

“Waduh, jadi istri pejabat ya sekarang. Jadi laen, deh, sekarang,” kataku cengengesan membuka pembicaraan.

“Ah, kamu. Biasa aja lagi gih,” jawab Hartini sembari mengumbar senyum manisnya. Ahai, ia mulai menunjukkan senyum ramahnya seperti dulu.

Kami pun mulai mengobrol ngalor-ngidul, mulai kenangan saat di kampus dulu hingga persoalan konflik di internal partai yang dipimpin suaminya. Salah satu yang menarik dari obrolan itu, adalah ternyata konflik partai itu salah satunya karena adanya penyusup yang mengobok-obok partai dari dalam.

Tak terasa obrolan kami sudah nyaris satu jam. Aku merasakan kembali aura Hartini yang dulu. Ramah dan supel. Tak ada kesan sombong di wajahnya. Ia masih tetap menarik meski tak ada kesan mewah dalam penampilannya. Padahal, aku yakin ia sangat bisa untuk tampil mewah dan luxurious

Saat terbongkar kasus pembunuhan pembunuhan Nasrudin yang melibatkan mantan Ketua KPK, Antasari Azhar, aku pun teringat obrolan dengan sang teman tentang sang penyusup itu. Sang penyusup ternyata seseorang yang kini jadi salah satu terdakwa kasus yang bikin geger tersebut. Dari obrolan itulah, aku menduga kuat sang penyusup itu tampaknya seorang binaan intelijen yang memang bertugas mengobok-obok partai pimpinan suami temanku itu. Usai berhasil mengobok-obok internal partai itu, sang penyusup yang notabene pemilik sebuah media massa tersebut juga terlibat dalam memasang perangkap canggih untuk menjatuhkan Antasari Azhar.

Beberapa bulan sejak silaturahmi itu, aku menonton pengumuman susunan kabinet yang langsung disampaikan oleh Presiden SBY. Seperti yang sudah banyak diprediksi oleh berbagai media massa, suami Hartini termasuk salah satu jajaran menteri baru di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Memang sang suami dan partainya termasuk dalam partai koalisi yang ikut mendukung duet SBY-Boediono saat pilpres beberapa waktu silam.

Sebagai teman, aku pun ikut gembira. Tak lupa, aku menelepon Hartini untuk mengucapkan selamat. Tak diangkat. Kucoba mengirimkan pesan singkat via ponselku, tak jua dibalas. Ya, sudahlah. Keesokan hari, aku mencoba kembali untuk menelepon dan mengirimkan pesan singkat. Tetap sama. Tak dibalas! Ya, sudahlah. Aku pasrah. Mungkin dia sibuk menerima ucapan selamat dari para pembesar lain di negeri ini. Sementara saya? Mungkin saya hanya seorang teman lama yang tak berarti apa-apa baginya.

“Wah, Hartini sudah berubah. Nggak seperti dulu lagi. Sombong,” kata seorang teman saat meneleponku di suatu sore. Ia memang juga mengenal dekat Hartini saat di kampus dulu.

“Masak sih?! Saat aku bertemu, biasa saja. Ngobrol ngalor ngidul. Bercanda. Nggak ada yang aneh,” jawabku seperti tak percaya. “Cuma saat kutelepon ketika suaminya jadi menteri, teleponnya sibuk melulu. Sms-ku juga nggak pernah dibalas.”

“Lha, emang begitu. Dia sudah berubah. Fia aja yang dulu teman sekostnya, kemana-mana bareng, sekarang sudah menjauh. Padahal mereka berdua sekarang kan satu organisasi. Sama-sama pengurus,” jelas sang teman sambil menyebut nama sebuah organisasi wanita.

Aku tercenung mendengar penjelasan temanku itu. Aku mencoba memaklumi. Jabatan memang bisa membuat seseorang berubah. Kesibukan dan jadwal yang padat sebagai seorang istri pejabat mungkin membuat Hartini jadi susah bertemu dengan teman-teman lama. Banyak orang yang datang untuk meminta bantuan dan menyodorkan proposal sehingga membuatnya tak nyaman. Mungkin juga karena memang lingkungan pejabat tinggi dipagari dengan etiket dan gaya hidup tertentu. Mungkin, tidak pantas bagi istri pejabat negara bertemu dengan sembarang orang. Bercanda lepas seperti saat di kampus dulu. Yah, waktu memang tak bisa ditarik mundur. Masa-masa cengengesan itu mungkin sudah lewat.