Iklan Golkar Indramayu yang Membikin Heboh

Iklan Golkar Heboh

Iklan Golkar yang Bikin Heboh Itu

Agama rentan sekali dibajak untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Lihat, saja, orang-orang yang mendukung “perjuangan” a la Amrozi, dengan sigap menampilkan ayat Alquran atau hadis Nabi untuk membenarkan tindakan mereka. Di sisi lain, orang-orang yang membela pluralisme, liberalisme, perjuangan gender, demokrasi, dan sejenisnya, juga tak kalah cerdik dalam menampilkan ayat atau hadis yang mendukung sikap mereka.

Nah, kasus terakhir yang lagi hangat adalah iklan politik Golkar Indramayu yang mengutip ayat Alquran dan Hadis Nabi Muhammad. Hal yang membuat geger dan marah para ulama dari iklan itu adalah penarikan kesimpulan yang sangat gegabah. “Kami mengajak seluruh Rakyat Indramayu untuk terus mempercayakan, mendukung, dan memilih pemimpin Indramayu hanya pada Kader Terbaik Partai Golkar. Sebab kalau tidak, sesungguhnya kita akan termasuk golongan orang yang mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum Muslimin…”

Protes pun bermunculan di mana-mana. MUI Jawa Barat juga mengecam. Para mahasiswa Indramayu di Bandung berdemonstrasi menuntut sang bupati meminta maaf dan kalau perlu dihukum. Para ulama lokal Indramayu, seperti Ketua Lembaga Kajian Syariah Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Indramayu KH M Yunus Rasyidi, juga angkat bicara mengecam iklan tersebut. Setelah menuai kecaman dan protes dari berbagai kalangan, terutama kalangan umat Islam, akhirnya sang bupati bersedia meminta maaf dan mengakui kesalahannya tersebut. Tak tanggung-tanggung, sang bupati juga bersedia mundur jika memang dikehendaki oleh rakyatnya.

Iklan politik tersebut dimuat di tiga koran lokal, yaitu Radar Cirebon, Mitra Dialog, dan Pikiran Rakyat pada tanggal 6 dan 8 Januari silam. Dengan dilatari warna kuning itu, iklan tersebut jelas sekali terdapat ajakan untuk memilih Partai Golkar. Sebagaimana diketahui, Bupati Indramayu sekarang, H. Irianto M.S. Syafiudin atau yang kerap dipanggil Yance, adalah seorang tokoh Golkar. Bahkan ia sekarang menduduki ketua Golkar Indramayu. Saat pemilihan gubernur Jawa Barat beberapa bulan silam, ia pernah membuat heboh kalangan internal Golkar. Hal itu karena ia berambisi untuk mencalonkan diri menjadi wakil gubernur mendampingi Danny Setiawan.

Sayang sekali, ambisinya itu ditolak mentah-mentah oleh pimpinan Golongan Karya. Sebagaimana diketahui, Danny Setiawan maju dalam pemilihan gubernur didampingi Iwan Sulanjana, yang berasal dari Partai Demokrat. Tak ayal, Yance pun meradang dan sempat berkoar meminta masyarakat Indramayu untuk golput. Ia juga mengancam akan keluar dari Partai Golkar. Tak hanya itu, ia pun sempat menggulirkan wacana pembentukan Provinsi Pantura, yang terdiri dari Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka.

Menghadapi ancaman Yance yang bisa merusak keutuhan Partai Golkar, terpaksa Jusuf Kalla turun tangan. Sang bupati pun dipanggil ke Jakarta untuk menemui Ketua Umum Golkar tersebut yang notabene wakil presiden tersebut. Akhirnya, Yance pun menghentikan aksi oposisinya terhadap pimpinan pusat Golkar. Bahkan kini ia kembali mesra dengan pimpinan pusat Golkar. Ia juga habis-habisan membela pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dalam pemilihan gubernur Jawa Barat. Hasilnya, pasangan itu menang di Indramayu, meski tidak menang telak.

Kini kemesraan Yance dengan pimpinan pusat Golkar kembali tampak dalam iklan politik yang membuat heboh itu. Tampak foto Yance berdampingan dengan Jusuf Kalla. Hebatnya lagi, di akhir iklan itu, tampak jelas ada tanda tangan dan nama Jusuf Kalla. Di samping foto kedua pembesar itu, terdapat tulisan yang berisi ajakan untuk memilih Golongan Karya.

Ajakan itu mungkin tidak akan membuat heboh jika tidak dikaitkan dengan ayat dan hadis, lantas tidak diambil kesimpulan yang gegabah: Sebab kalau tidak, sesungguhnya kita akan termasuk golongan orang yang mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum Muslimin…” Agar lebih jelas, mari kita kupas ayat dan hadis yang dipelintir dalam iklan politik yang, menurut majalah Ombudsman, amatiran itu.

Ayat yang ditampilkan dalam ayat itu adalah Alquran Surat al-Qashash ayat 26 yang terjemahannya berbunyi: “Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah orang yang kuat lagi tepercaya”. Padahal kalau dibaca utuh, konteks ayat tersebut tidak berkaitan langsung dengan pemilihan pemimpin. Ayat yang dikutip dalam iklan itu sebenarnya merupakan potongan dari dialog anak perempuan Nabi Syuaib dengan sang ayah. Saat itu, sang anak mengusulkan kepada sang ayah untuk mengangkat Nabi Musa sebagai karyawan di usaha peternakan milik Nabi Syuaib.

Dalam rangkaian ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, dikisahkan bahwa Nabi Musa melarikan diri dari kejaran tentara Firaun. Pelarian Nabi Musa itu dilakukan karena beliau tanpa sengaja menghilangkan nyawa seorang warga Mesir yang notabene rakyatnya Firaun. Saat itu, si orang Mesir berkelahi dengan seorang dari Isreal, kelompok Nabi Musa. Karena perkelahian tidak seimbang, orang-orang Isreal lantas meminta bantuan Nabi Musa yang dikenal berbadan kekar dan kuat. Tak ayal, Nabi Musa lantas meninju si Mesir hingga akhirnya tewas.

Khawatir kasus pembunuhan yang dilakukan diketahui oleh aparat Firaun, Musa pun melarikan diri. Dalam pelariannya itulah, Nabi Musa bertemu dengan dua orang anak perempuan Nabi Syuaib. Saat itu, keduanya sedang kesulitan dalam menimba air guna memberi minum ternak mereka. Hal itu karena keduanya tidak mampu berebutan dengan para penggembala lain yang sama-sama hendak memberi minum ternak mereka. Karena postur tubuhnya yang tinggi besar dan kekar, Nabi Musa pun dengan mudah memperoleh air meski harus ikut berebut dengan banyak penggembala lain.

Usai dibantu oleh Nabi Musa, kedua perempuan itu pun pulang ke rumahnya dan menceritakan kepada sang ayah, Nabi Syuaib, perihal pertolongan Nabi Musa itu. Tertarik dengan sosok Nabi Musa, Nabi Syuaib mengundangnya untuk datang ke rumah. Saat itulah, terjadi dialog antara salah seorang anak perempuan Nabi Syuaib. Sang anak perempuan mengusulkan kepada ayah, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia (Nabi Musa) sebagai pekerja (dalam usaha ternak domba kita). Sesungguhnya, orang paling baik yang engkau angkat sebagai pekerja adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”

Jadi dalam konteks itu, syarat memilih seorang pekerja adalah orang yang kuat dan dipercaya. Kuat tidak selalu bersifat fisik, tapi bisa bersifat mental. Kuat secara mental dalam menghadapi berbagai masalah yang muncul. Bisa dipercaya juga merupakan modal menjadi seorang pemimpin yang ideal. Pemimpin yang tidak bisa dipercaya hanya akan menyelewengkan jabatannya untuk kepentingannya sendiri dan kelompoknya.

Ayat tersebut berbicara secara universal. Tak ada keterangan yang spesifik untuk merujuk kepada orang-orang Golkar! Sangat tidak masuk akal jika mengaitkan Alquran yang turun di jazirah Arab, 14 abad silam, dengan keberadaan partai Golkar di Indramayu! Di sisi lain, harus juga dipertanyakan, apakah betul orang-orang Golkar adalah orang-orang yang kuat dan bisa dipercaya? Apakah selain orang Golkar tidak ada yang orang memiliki kualifikasi kuat dan dapat dipercaya?

Kepemimpinan Yance sebagai Bupati Indramayu bukanlah tidak ada masalah. Meski menorehkan berbagai prestasi dan memperoleh beberapa penghargaan, Bupati Yance juga menuai berbagai kritik. Di saat ia mencanangkan Indramayu Remaja (religius, maju, mandiri, dan sejahtera), justru terjadi aksi mabuk-mabukan di saat bulan Ramadhan silam. Aksi itu menimbulkan korban tidak kurang dari 21 orang nyawa melayang. Sungguh ironis! Ia juga sempat diprotes keras saat melemparkan ide test keperawanan bagi para siswa sekolah di Indramayu menyusul merebaknya video mesum sepasang anak SMA Indramayu. Kasus-kasus ini tentu sangat bertolak belakang dengan misi Indramayu yang religius seperti Sang Bupati inginkan.

Iklan di atas juga mengutip hadis yang maknanya dipelintir sedemikian rupa. Teks hadis yang ditampilkan adalah sebagai berikut: “Siapa yang mengangkat seseorang untuk suatu jabatan yang berkaitan dengan urusan masyarakat, sedangkan ia mengetahui ada yang lebih tepat, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum muslimin.” Paling tidak, hadis tersebut bersumber dari tiga kitab hadis, yaitu al-Mustadrak karya al-Hakim dalam hadis nomor 7023; as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi dalam hadis nomor 20151; dan al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabrani dalam hadis nomor 11053.

Menurut al-Hakim sendiri, hadis itu secara sanad adalah sahih (sahih al-isnad). Namun pada hadis yang diriwayatkan dari jalur ath-Thabrani, di antara rangkaian sanadnya terdapat perawi bernama Husain bin Qais yang dikenal dengan nama Bahnasy. Orang ini diperselisihkan kredibilitasnya. Mayoritas ulama menganggapnya seorang perawi yang lemah. Namun sebagian ulama, seperti Ibnu Namir menganggapnya dapat dipercaya; at-Tirmizi menganggapnya baik (hasan), dan al-Hakim menganggapnya sahih.

Sama seperti ayat yang dikutip iklan ini, hadis tersebut juga sebenarnya bersifat umum. Tidak ada yang bersifat khusus, apalagi merujuk kepada partai Golkar! Sungguh betapa jauh panggang dari api. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa hadis tersebut mengutarakan tentang tata cara memilih seorang pemimpin yang tepat. Tepatnya seorang pemimpin adalah jika ia paling mengetahui Kitab Alquran dan as-Sunnah. Hal itu bisa dilihat dari hadis senada yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

Persoalannya adalah apakah Yance dan para pemimpin Golkar merupakan orang yang paling mengetahui Kitab Alquran dan as-Sunnah, sehingga mereka bisa diklasifikasikan sebagai orang yang paling tepat menjadi pemimpin?! Tentu saja hal ini bisa diperdebatkan. Orang-orang dari partai Islam tentu banyak yang lebih tepat jika ukurannya adalah yang paling mengetahui Alquran dan as-Sunnah. Adalah sangat tidak arif jika mengaku diri sendiri sebagai orang yang paling tepat lantas menyimpulkan bahwa jika orang tidak memilih dirinya adalah mengkhianati Allah, Rasul, dan orang-orang muslim. Kesimpulan itu adalah klaim sepihak yang sangat mungkin sekali keliru.

Penggunaan idiom agama dalam kampanye politiknya tidak hanya sekali ini dilakukan oleh Yance. Masih segar dalam ingatan kita saat Mei 2005, ia mengeluarkan mushaf Alquran yang terdapat foto dirinya. Dana dari APBD sebesar Rp. 100 miliar untuk biaya pencetakan 4.600 mushaf tersebut. Apa lacur? Kaum muslimin pun memprotes keras. MUI juga berbicara keras dengan mengharamkan tindakan itu, karena dianggap melecehkan Alquran. Bahkan terjadi gelombang demonstrasi untuk memprotes iklan konyol itu. Para demonstran bahkan menuntut meminta maaf sang bupati dan mundur dari jabatannya. Akhirnya, mushaf yang terlanjur dibagikan itu pun ditarik kembali. Fotonya pun dicopot dari mushaf.

Beberapa waktu silam juga pernah muncul berbagai spanduk besar yang membentang di atas jalan di beberapa titik Indramayu. Spanduk itu berbunyi: pejah gesang nderek pak Yance (Hidup Mati Ikut Pak Yance). Tentu saja spanduk itu pun diprotes oleh kalangan ulama. Hal itu karena bunyi spanduk sangat bertentangan dengan konsep tauhid yang menjadi fondasi dasar agama Islam. Hidup dan mati seorang muslim hanyalah untuk Allah, bukan untuk seorang makhluk pun. Katakanlah: “Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS. Al-An’am: 162). Demikian yang dikatakan dalam Alquran. Akhirnya, tak sampai lama ditayangkan, spanduk itu pun dicopot.

“Keberhasilan” Yance juga menjadi bahan iklan yang dikaitkan dengan ayat Alquran. Dalam hal ini, ayat yang disitir adalah Surah Ibrahim ayat 7 yang berbunyi: …… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Pada sebuah selebaran yang pernah beredar beberapa waktu silam, pernah diungkapkan bahwa keberhasilan Pak Yance adalah bentuk anugerah yang harus disyukuri masyarakat Indramayu. Karena itulah, bentuk syukurnya adalah dengan tetap mendukung kepemimpinan Yance dan Partai Golkar. Jika tidak mendukungnya, berarti tidak mensyukuri nikmat Allah!

Pada tahun Pemilu Tahun 1982, penggunaan ayat untuk tujuan politik juga pernah terjadi. Saat itu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih menggunakan lambang Ka’bah. Tak ayal, ditampilkanlah ayat untuk menggiring masyarakat muslim memilih partai berlambang Ka’bah itu. Misalnya, ayat 97 Surat al-Maidah yang berbunyi: …Allah telah menjadikan Ka`bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia…… Tak hanya sampai di situ, untuk mendiskreditkan Golongan Karya saat itu, ayat lain pun disebut, misalnya ayat yang berbunyi: Dan Kami berfirman: ….dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim…. Kata pohon yang dimaksud tentu saja pohon beringin yang menjadi logo Golkar yang saat itu belum disebut sebagai partai. Tak mau kalah, orang Golkar pun menyebutkan ayat: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon….. Tentu saja, maksud kata “pohon” dalam ayat itu adalah pohon beringin yang menjadi logo Golkar.