Di Ujung Batas

Sang pawana berhembus kencang di balik jendela sedan itu. Jalan menanjak dan berliku. Pepohonan jati berdiri kokoh di kedua sisi jalan. Yusuf masih duduk di belakang setir Vios yang terus melaju.

“Masih jauh, Mas?” tanya Ria yang duduk di samping Yusuf. Tangannya parkir di paha lelaki itu.

“Sebentar lagi, Sayang,” sahut Yusuf sambil menoleh sejenak ke arah Ria. “Kamu cantik sekali hari ini.”

“Gombal!” Ria mencubit pelan paha Yusuf.

“Aduh,” seru Yusuf dengan menggerakkan pahanya. Dari balik kaca spion, ia melihat jelas wajah Ria yang putih mulus. Alis matanya dicukur lancip. Bibirnya dipoles lipstik merah tebal. Blouse-nya yang ketat kian memperjelas lekuk tubuhnya. Dengan penampilan Ria seperti itu, tak aneh jika banyak lelaki di kantor Yusuf berlomba merebut hati karyawan honorer tersebut.

Sekira setengah jam kemudian, sejoli itu tiba di pemandian air panas. Tampak rumah-rumah mungil yang berjejer rapi di pinggir kolam renang. Saat turun dari mobil, seorang lelaki petugas hotel menyambut mereka dengan senyum mengembang. Petugas itu pun menjelaskan, rumah-rumah mungil itu adalah kamar-kamar yang disewakan. Usai check in di lobby, mereka pun memasuki sebuah kamar yang terletak di ujung kolam.

“Wah, kasurnya empuk sekali,” seru Ria saat menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan bed cover berwarna coklat silver itu. “Jadi mandi, nggak, Mas?” tanya Ria kemudian.

“Iya, lah,” sahut Yusuf saat memasuki kamar mandi. “Nah, ini bath up-nya, Wah, airnya panas beneran nih. Bau belerang lagi,” imbuh lelaki itu usai membuka kran air.

Tak menunggu lama, sejoli itu sudah saling merapatkan tubuh di dalam bath up. Berkali-kali bibir mereka beradu. Setengah jam kemudian, seusai mandi dan mengeringkan badan, mereka beranjak ke atas peraduan. Mereka kembali bergumul. Hingga di tepi batas tatkala Ria hendak membuka pintu kehormatannya, ponsel Yusuf berdering keras.

“Sialan! Mengganggu aja,” gerutu Yusuf seiring bangkit dari kasur dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja hias.

“Siapa, Mas?” tanya Ria yang buru-buru menutupi tubuhnya dengan bed cover.

“Ssst!” Yusuf memberi isyarat pada Ria. “Ya, Ma. Ada apa?”

“Pa, Mama perasaannya nggak enak banget. Jantung rasanya berdegup kencang. Tadi usai mengikuti pelajaran, rasanya lemas sekali.” Terdengar suara perempuan yang sangat Yusuf hafal di ujung telepon. Sudah hampir sebulan perempuan itu berangkat diklat di Bandung.

“Ya, dimakan dong obat jantungnya. Istirahat aja dulu,” sahut Yusuf sekenanya. Tangannya bergemetar menggenggam ponsel. Wajahnya langsung berubah pucat.

Usai menutup pembicaraan di telepon, Yusuf terdiam sejenak di atas kursi kecil di depan meja hias itu. Berkali-kali ia membuang nafasnya hingga terdengar jelas desisnya. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar.

“Lho, kok, jadi diam sih, Mas?” sergah Ria, “Tadi siapa sih yang nelepon? Serius amat. Istrinya ya?”

“Iya,” jawab Yusuf pelan dengan senyum masam.

Sayup-sayup terdengar kumandang azan zuhur membelah mayapada. Yusuf bangkit dari kursi lantas mengenakan bajunya. Ia lalu melangkah ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.

“Lho, mau ngapain, sih, Mas?” seru Ria sembari duduk di atas kasur yang sudah awut-awutan.

“Mau shalat zuhur. Nanti selesai shalat, kita langsung pulang,” tegas Yusuf seraya menggelar sajadah yang disediakan hotel. Ria hanya terdiam melongo.

Kuis Agustus di Cerita Eka.