Celoteh Jiwa

Hari ini terlalu banyak waktu yang kubuang. Seperti hari-hari yang lalu. Berjam-jam waktu kuhabiskan di depan komputer. Sementara berapa jam waktu yang kusediakan untuk-Nya? Mungkin tak ada sejam dalam sehari. Sungguh bodoh! Padahal nafasku berada dalam genggaman-Nya. Semesta alam tunduk dalam kuasa-Nya.

Malam ini, aku ingin tidur cepat. Biar di subuh nanti aku bisa meraih rahmat-Nya dengan bershalat subuh berjamaah di surau belakang rumahku. Ibu dan istriku mungkin sudah letih mengingatkanku agar tidak melewatkan waktu subuhku.

Terlalu banyak aktifitas duniawi yang sia-sia kulakukan. Setiap hari. Dan ketika sudah terlewat, waktu pun tak bisa kembali. Kembali aku terus mengulangi kerugian yang dengan sadar kulakukan. Wal ashri. Demi waktu. Ah, sudahlah. Malam ini terasa begitu sepi. Anakku yang tertua sudah terlelap tidur. Istriku dan anak keduaku belum jua kembali dari RS untuk menjenguk ibunya, mertuaku, yang sedang tergolek sakit.

Ya, Allah, maafkan diriku yang sering tak peduli dengan perhatian-Mu. Betapa banyak perhatian-Mu padaku: nafas yang kuhirup, nasi yang kutelan, jabatan yang kusandang, istri yang setia. Banyak lagi. Andaikan menjadi tinta, seluruh air samudera tak kan habis untuk menuliskan berlaksa anugerah-Mu.

Teman-teman, aku harus istirahat, dulu. Sudah terlalu letih jiwa dan fisikku. Selamat malam. Semoga mimpi indah.