Haikal Hassan: Ulama versus Lalat

“Lalat yang berkumpul di sebuah bangkai lebih bagus daripada ulama yang berkumpul di depan pintu penguasa.”

Demikianlah, kalimat yang disebutkan oleh Ustaz Haikal Hassan dalam salah satu unggahan video di media sosial. Dan menurut sang ustaz, kalimat itu adalah perkataan Ka’ab bin Malik. Kalimat tersebut terus dipabrikasi sejak beberapa tahun silam, bahkan dibuat meme sehingga tersebar luas di media sosial. Pendapat tersebut menjadi semacam legitimasi bagi sebagian pihak untuk mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap sebagian ulama yang memiliki pilihan politik berbeda.  

Tergelitik dengan kutipan yang berulang-ulang diucapkan dan dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi yang mulia, kami pun berupaya menelusuri di kitab-kitab turats. Apakah betul pendapat itu ada dan siapa pula yang mengucapkannya? Demikian pertanyaan yang ingin dijawab dalam tulisan ini.

Di antara keenam belas kitab yang mengutip pendapat tersebut, hanya tiga kitab yang memiliki sanad yang jelas, yaitu kitab al-Wara’ di atas, Tarikh Baghdad karya Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H), dan ath-Thuyuriyyat karya Abu al-Hasan al-Mubarak bin Abdul Jabbar ash-Shairafi ath-Thuyuri (w. 500 H). Selain ketiga kitab di atas, sisanya adalah kitab-kitab yang memuat pendapat tersebut tanpa menjelaskan asal-usul sanadnya, seperti kitab Ihya Ulum ad-Din karya Imam Ghazali (w. 505 H) dan Tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari (w 583).  

Redaksi yang terdapat dalam al-Wara’ adalah sebagai berikut:

297 – سمعت محمد بن مسلمة يقول: الذباب على عذرة أحسن من قارئ على باب هؤلاء  يعني المترفين

Artinya:

297 – Aku (Ahmad bin Hambal) mendengar Muhammad bin Maslamah berkata, “Lalat di atas kotoran tinja lebih baik daripada qari di pintu-pintu mereka.” Yang dimaksud “mereka” adalah orang-orang yang suka berbuat zalim.

Sedangkan redaksi yang terdapat dalam Tarikh Baghdad adalah sebagai berikut:

أخبرنا أبو محمد عبد الله بن أحمد بن عبد الله الأصبهاني حدثنا جعفر بن محمد بن نصير الخالدي حدثنا أحمد بن محمد بن مسروق حدثنا محمد بن بشير الكندي العابد قال سمعت بن السماك العابد يقول: الذباب على العذرة أحسن من القارئ على أبواب الملوك.

Artinya:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Abdullah al-Asfahani; telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Nushair al-Khalidi; telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Masruq; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyir al-Kindi al-Abid; ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Sammak al-Abid berkata, ‘Lalat di atas kotoran tinja lebih baik daripada qari di pintu-pintu mereka.’” Yang dimaksud “mereka” adalah orang-orang yang suka berbuat lalim (al-mutrafin).

Riwayat yang terdapat ath-Thuyyurat memiliki redaksi persis sama dengan riwayat di Tarikh Baghdad, namun sedikit perbedaan dalam sanad. Meski demikian, kedua redaksi di kedua kitab tersebut sama-sama menyebutkan bahwa pendapat tersebut berasal dari Ibnu as-Sammak. Sedangkan redaksi-redaksi lain di kitab lainnya tidak perlu dibahas karena memang tidak memiliki sanad.

Redaksi pertama yang terdapat dalam al-Wara’ menunjukkan bahwa Imam Ahmad bin Hambal mendengar langsung dari Muhammad bin Maslamah. Setelah ditelusuri, Muhammad bin Maslamah ternyata adalah sahabat Nabi yang wafat pada tahun 43 H. Sedangkan Imam Ahmad lahir pada tahun 164 H dan wafat pada tahun 241 H. Dengan demikian, keduanya tidak mungkin bertemu, sehingga mustahil Imam Ahmad mendengar langsung Muhammad bin Maslamah mengucapkan kalimat tersebut.

Redaksi yang kedua menyebutkan bahwa kalimat tentang lalat itu diucapkan oleh Ibnu as-Sammak yang notabe adalah guru dari Ahmad bin Hambal. Menurut az-Zahabi dalam Mizan al-I’tidal, nama lengkap Ibnu as-Sammak adalah Muhammad bin Shabih bin as-Sammak (w. 183). Ia dikenal sebagai seorang zahid dan sering menasehati penguasa di zamannya. Bahkan ia pernah menasehati langsung Khalifah Harun ar-Rasyid.

Sebagaimana dijelaskan di atas, redaksi kedua memiliki dua jalur riwayat, yaitu dari al-Khatib al-Baghdadi dan ath-Thuyuri. Kedua jalur riwayat itu sama-sama memiliki perawi Ahmad bin Masruq dan Muhammad bin Basyir. Menurut Ibnu Ma’in, Muhammad bin Basyir tidaklah terpercaya (tsiqah). Menurut ad-Daruquthni, Ahmad bin Masruq dan Muhammad bin Basyir tidak kuat hafalannya. Dengan dilihat dari aspek sanad, validitas redaksi ini juga lemah.   

Dari paparan di atas, tampak sekali bahwa ucapan Ustaz Haikal Hassan yang menisbatkan kalimat tentang lalat tersebut kepada Ka’ab bin Malik adalah tidak berdasar. Tidak ada satu pun kitab turats, termasuk di kitab-kitab biografi para sahabat, yang menyebutkan bahwa Ka’ab bin Malik pernah mengucapkan kalimat tersebut.

Berdasarkan riwayat di Tarikh Baghdad dan ath-Thuyurat, kalimat tersebut diucapkan oleh Ibnu as-Sammak. Namun jika dilihat dari penjelasan riwayat hidup Ibnu as-Sammak di kitab-kitab biografi perawi, tidak ada ucapan Ibnu as-Sammak tentang lalat tersebut.

Jika dilihat dari redaksinya, Ustaz Haikal menerjemahkan kata qari sebagai ulama adalah tidak tepat. Makna generik kata qari adalah pembaca. Secara terminologis, sebagaimana disebut dalam al-Qamus al-Fiqh, qari adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah. Pada zaman Nabi SAW, qari dengan bentuk jamak qurra itu merujuk kepada para penghafal dan pengajar Al-Qur’an. Tidak semua qari adalah seorang ulama dan tidak semua ulama adalah para qari.

Di samping itu, Ustaz Haikal Hassan juga menerjemahkan al-adzarat dengan bangkai. Terjemahan itu juga terlalu jauh dari makna sebenarnya. Boleh jadi beliau memang tidak membaca langsung teks aslinya dalam bahasa Arab. Bagaimanapun kata al-adzarat sama sekali tidak bermakna bangkai. Dalam bahasa Arab, bangkai itu diartikan jutstsah atau maytah. Wallahu a’lam.