Balada Kawin Kontrak 2

Setelah melangsungkan pernikahan kontrak di Bogor dan menikmati bulan madu di Bali, Si Arab pun pulang ke negerinya. Sementara si Inem pulang ke kampungnya, ya, kampungku juga. Tentu saja dengan membawa pundi-pundi uang yang bejibun.

Namun, namanya juga perempuan masih muda. Apalagi si Inem sudah merasakan nikmatnya “surga dunia”. Setelah beberapa bulan sepulangnya sang “suami” ke negerinya, Inem pun merasakan kesepian. Nah, lho! Untuk membunuh sepinya, ia pun menjalin asmara dengan seorang pemuda sekampung. Ternyata selingkuh betul-betul tidak hanya menjadi tema lagu, tapi betul-betul dilakukan oleh Inem.

Sang Paman yang mengetahui perselingkuhan sang keponakan, menjadi geram. Ia menganggap bahwa hal itu bisa merusak proyek bisnis “kawin kontrak” yang telah menghasilkan banyak uang. Ia tegur dengan keras, si keponakan agar berhenti menjalin asmara dengan sang pemuda kampung itu. Namun dasar memang mencintai si pemuda itu, Inem tak peduli dengan teguran sang paman. Ia tetap menjalin asmara dengan si pemuda meskipun kucing-kuncingan.

Tak kehabisan akal, sang paman menyusun strategi agar perselingkuhan si keponakan bisa bubar. Akhirnya, ia berkolaborasi dengan seorang aparat berwajib. Sang aparat diminta untuk meneror sang pemuda. Kalau pemuda itu masih nekad menjalin asmara dengan si Inem, tahu sendiri akibatnya. Karena ketakutan dengan ancaman si aparat, pemuda itu pun menjauhi Inem.

Setelah sukses membubarkan perselingkuhan Inem, sang Paman terus menjalankan proyek kawin kontrak sang keponakan. Si Inem diminta untuk terus menjaga penampilan dan tidak boleh menjalin asmara dengan lelaki lain. Walhasil, Si Arab semakin kesengsem dengan si Inem dan kembali memperpanjang kawin kontraknya hingga sampai sekarang. Sudah 5 (lima) tahun, tak terasa Inem merasakan menjadi istri simpanan dalam perkawinan kontrak dengan anak mantan majikannya di Arab Saudi sana.

Ya, begitulah. Ketika tuntutan ekonomi begitu menjejali otak dan hati, betul-betul terpampang jelas di depan mata, maka hukum agama dan negara bisa menjadi pertimbangan nomor kesekian. Aku tidak tahu, apakah harus bangga dengan lakunya Inem di hadapan si Arab, atau harus sedih karena betapa institusi pernikahan menjadi kedok hawa nafsu berahi dan kepentingan ekonomi semata.

Aku berharap, semoga Inem menyadari, ia tidak mungkin terus-terusan menjadi istri simpanan dalam kawin kontrak tersebut. Suatu saat, masyarakat mungkin main hakim sendiri dan menggrebek ketika si Arab datang menjemput Inem, sang pujaan hati. Saat itulah, petaka pun akan menjemput Inem. Ya, sebagaimana yang terjadi di beberapa tempat di desa tetangga.