Balada Cinta Mamat dan Ratna

Pemuda itu sebut saja bernama Mamat. Ia hanyalah pemuda kampung yang terlahir dari keluarga tak berpunya. Rumahnya terletak persis di pinggir kali. Mungkin lebih tepat disebut gudang daripada rumah. Tipenya adalah RSSSSS. Rumah Sangat Sempit Sehingga Sulit Selonjor.

Dengan gaya bicaranya yang luwes dan santun, Mamat memang mudah bergaul. Tak aneh, jika ia mudah berteman dengan para gadis sekampung meski tampangnya tidak seganteng artis Nicholas Saputra. Ia juga ringan tangan jika dimintai tolong oleh orang lain.

Suatu hari, usai melaksanakan tugas di sebuah akad nikah, saya didekati Mamat. Ia pun bercerita banyak tentang kisah kasihnya yang tak seindah roman picisan. Mamat menjalin cinta dengan Ratna, seorang gadis Yogya lulusan D3 UGM. Gadis pujaannya itu bekerja sebagai guru PNS di sebuah SD. Umurnya 3 tahun di atas Mamat.

Tentu saja status sosial keluarga Mamat dengan keluarga Ratna jauh berbeda. Seperti langit dan bumi. Keluarga Ratna adalah priyayi Yogya. Meski bukan orang kaya raya, keluarga Ratna bisa dibilang berkecukupan. Kedua orang tuanya adalah PNS sembari berwiraswasta. Sebuah mobil sedan dan dua buah motor nongkrong di garasi rumah Ratna.

Mamat sendiri? Jangankan mobil, motor pun ia tak punya. Hanya sebuah sepeda butut yang setia menemaninya, termasuk jika ia berangkat mengajar sebagai tenaga honor di sebuah SD. Semenjak ayahnya meninggal saat ia masih di bangku SD, praktis ekonomi keluarga Mamat hancur. Ia pun menyelesaikan sekolahnya hingga SLTA sembari menjadi pembantu di rumah seorang kyai yang mengasuh sebuah pesantren kecil di kampungku.

“Kamu mengguna-guna anak saya, ya?!” Begitu tuduhan ayah Ratna kepada Mamat seperti yang ia ceritakan padaku. Orang tua Ratna tidak habis pikir, bagaimana bisa anaknya yang cerdas, berpendidikan tinggi, punya pekerjaan tetap bisa mencintai pemuda miskin, pengangguran, tidak kuliah, dan bla bla bla.

“Sumpah, Pak! Demi Allah. Saya nggak pernah mengguna-guna, Ratna,” ujar Mamat melanjutkan ceritanya. “Saya nggak pernah berharap banyak. Saya tahu diri, kok. Saya orang miskin, nggak punya pekerjaan jelas. Saya pernah memutuskan cinta saya sama Ratna. Tapi, Pak, justru dia jadi stres. Lari di rumah. Orang tuanya kebingungan mencari-cari, terus minta bantuan saya. Saya pun sibuk mencari-carinya. Akhirnya, saya menemukan Ratna di alun-alun kota. Jam 11 malam. Ia berjalan seperti orang linglung. Untung saja, ia mau saya bujuk pulang.”

Akhirnya, Mamat pun tak jadi memutuskan cintanya dengan Ratna. Waktu demi waktu berjalan. Cinta yang mereka bangun semakin kokoh. Di mana ada Mamat, di situ ada Ratna. Lengket bak prangko yang nempel di surat. Dengan motor kepunyaan Ratna, sepasang sejoli itu sering terlihat melintas di jalan-jalan di kampungku.

Melihat anaknya semakin lengket dengan Mamat, orang tua Ratna semakin gerah. Mamat dipanggil ke rumah orang tua gadis itu. Pemuda kampung itu pun disemprot habis-habisan. Ultimatum pun dikeluarkan. Mamat tidak boleh lagi mendekati Ratna.

Namun ternyata cinta Ratna terhadap Mamat begitu dalam. Meski dilarang orang tuanya, Ratna tetap nekat datang ke rumah Mamat. Setiap kali ia dimarahi orang tuanya karena Mamat, ia pun lari ke rumah pemuda itu dengan berurai air mata. Tidak hanya dimarahi, orang tua Ratna pun mulai bermain kasar. Pernah Mamat beberapa kali melihat wajah biru lebam dipukuli orang tuanya.

Tak tahan melihat kondisi Ratna, Mamat berupaya menyarankan gadis pujaannya itu menjauhi dirinya dan mengikuti keinginan orang tuanya. Tapi apa lacur? Ratna justru terkapar sakit memikirkan Mamat. Berhari-hari ia dirawat di rumah sakit dan selalu mengigau menyebut nama Mamat. Kembali orang Mamat memintanya untuk menjenguk Ratna. Namanya juga sakit cinta, Ratna pun berangsur sembuh setelah Mamat ikut menjaganya di rumah sakit.

Suatu hari, Mamat datang ke kantorku untuk mengurus perihal perkawinannya dengan Ratna. Kupikir, ia hendak mendaftarkan pernikahannya. Ternyata tidak. Orang tua Ratna menolak keras pernikahan mereka. Ayah Ratna tak sudi menjadi wali dalam pernikahan mereka. Karena itulah, kedua sejoli itu hendak menempuh jalur pengadilan. Pernikahan mereka harus menggunakan wali hakim yang disahkan oleh pengadilan. Dengan demikian, mereka pun mengajukan permohonan wali hakim

Tak lama setelah permohonan wali hakim didaftarkan ke pengadilan agama, surat panggilan untuk sidang dilayangkan ke orang tua Ratna. Ternyata orang tua Ratna semakin murka. Ketika kurir dari pengadilan datang, ia pun serta merta diusir oleh ayah Ratna. Surat panggilan itu langsung disobek-sobek di depan sang kurir.

Meski orang Ratna menolak hadir dalam persidangan, permohonan itu terus dilanjutkan oleh Mamat dan Ratna. Mengetahui kasusnya akan terus dilanjutkan, orang tua Ratna kembali berulah. Ia meminta kepada Mamat untuk menarik permohonan wali hakim di pengadilan. Ia tidak ingin kasusnya berlanjut di pengadilan. Ia berjanji bersedia untuk menjadi wali bagi Ratna untuk dinikahkan dengan Mamat. Mendengar janji itu, hati Mamat pun luluh. Ia bersedia menarik kembali permohonan wali hakim yang sudah ia daftarkan.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ternyata, janji itu hanyalah rayuan pulau kelapa agar Mamat menarik kasusnya di pengadilan untuk menghindari rasa malu sang priyayi. Begitu Mamat menarik kasusnya, orang tua Ratna mengingkari janjinya. Ia tetap menolak keras pernikahan Ratna dengan Mamat. Saat keluarga Mamat bertandang ke rumah untuk melamar, orang tua Ratna menolak mentah-mentah lamaran itu.

Tak pelak, Mamat pun langsung patah hati berat. Tanpa memberitahukan orang tuanya dan Ratna, Mamat memutuskan untuk menjadi TKI di luar negeri. Ia berangkat ke Jakarta menuju sebuah PJTKI. Negara yang ia pilih adalah Singapura. Ia juga sudah mengikuti test kesehatan dan membayar uang pendaftaran sekian ratus ribu rupiah. Usai mengurus pendaftarannya untuk jadi TKI selama beberapa hari di Jakarta, Mamat pun pulang.

Mengetahui Mamat hendak berangkat ke luar negeri untuk jadi TKI, ibunya bersikeras tidak setuju. Sang ibu khawatir, hidup Mamat akan menjadi tidak karu-karuan saat di luar negeri jika dalam kondisi jiwa yang labil. Di sisi lain, sang ibu juga tidak mau ditinggalkan Mamat sendirian karena semua saudara-saudaranya sudah berumah tangga dan hidup terpisah. Akhirnya, Mamat kembali mengalah. Ia menggagalkan niatnya untuk pergi menjadi TKI di luar negeri demi sang ibu.

Kini, Mamat sudah mengontrak sebuah rumah mungil di dekat sebuah mushalla. Ia mengajar mengaji anak-anak kampung dan menjadi imam di mushalla. Seiring waktu, ia tidak lagi berusaha keras untuk menikahi Ratna. Meski di sisi lain, ia juga tahu Ratna masih sangat mencintainya dan hampir setiap sore mampir ke rumah kontrakannya. Terkadang Mamat malu jika Ratna sering datang. Masyarakat banyak bergunjing. Ia takut terjadi fitnah.

“Din, kamu harus segera mengambil keputusan,” saranku saat kemarin bertandang ke kontrakan Mamat. “Tak mungkin, kamu terus-terusan berada dalam situasi yang tidak jelas. Waktu tiga setengah tahun sudah cukup untuk mengenal Ratna dan orang tuanya. Sudah cukup untuk mengetahui, apakah Ratna dan orang tuanya cocok untuk dijadikan bagian dari keluargamu.”

“Kalau memang kamu merasa cocok dengan Ratna,” lanjutku memberikan saran, “dan sanggup menanggung resiko dengan penolakan orang tuanya, segera nikahi Ratna. Urus masalah wali hakim itu kembali ke pengadilan. Namun jika, Ratna bukan orang yang cocok, segera tinggalkan dan cari perempuan lain. Toh, Ratna bukan anak kecil lagi. Ia punya orang tua. Kalau ia patah hati atau stres dengan keputusanmu, itu lebih baik daripada kamu dan Ratna terus-terusan berada dalam situasi yang jelas dan terombang-ambing. Biar Ratna juga bisa mencari lelaki lain yang sesuai dengan keinginan orang tuanya.