Balada Cinta Jono dan Jeni

balada nikah joni dan jenis

balada cinta joni dan jeni

Pada hari itu, Joni dan Jeni datang ke kantor kami  untuk mendaftarkan pernikahannya. Tentu saja kami menerima keduanya dengan tangan terbuka. Setelah diperiksa dengan teliti, tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Semua memenuhi syarat. Persyaratan administrasi lengkap. Syarat pernikahan menurut regulasi dan fikih Islam, semuanya terpenuhi.

Hingga satu hari menjelang hari H, seorang petugas desa datang ke kantor kami. Tak ada senyum dan tawa yang terpancar di wajahnya seperti biasa jika ia datang ke kantor.

“Ini ada masalah, Pak?” petugas desa itu membuka pembicaraan usai ia duduk di kursi dalam ruanganku.

“Oke, ada masalah apa?” tanyaku.

“Tentang pendaftaran nikah atas nama Jono dan Jeni. Pernikahannya digagalkan,” ujar petugas desa itu dengan nada lirih.

“Lho, ada apa kok digagalkan?” tanyaku dengan penuh keheranan.

“Ada satu masalah, Pak,” jawab sang petugas.

“Iya, masalah, apa?” sergahku penasaran.

“Hmm…. hmm…” Petugas desa itu jadi terlihat kikuk.

“Kok, jadi bingung? Terus terang aja! Ada apa?” kejarku terus menyelidik.

“Gini, Pak,” ujar sang amil. “Mmm…. Jadi begini..”

“Dari tadi nggak dijawab-jawab! Mmmm aja!”

“Jadi, calon pengantin perempuan sudah tiga kali menikah sebelumnya.”

“Tiga kali itu, menikah resmi semua?”

“Nggak, sih, Pak. Pertama, nikah resmi. Kedua, nikah sirri. Terakhir, nikah resmi lagi.”

“Ya, terus masalahnya apa?”

“Dari ketiga kali pernikahan itu, semua suaminya mati, Pak!”

“Haah?! Yang bener?”

“Bener, Pak!”

“Terus?! Apa hubungannya dengan rencana pernikahan sekarang?! Kenapa digagalkan?” selidikku dengan mata melotot.

“Iya, calon suami yang sekarang, tidak mau juga nanti mati kalau sudah menikah dengan perempuan itu!”

“Waduh! Soal hidup dan mati itu kan di tangan Tuhan, Pak. Kalau ditakdirkan Tuhan, orang itu hidup, ya pasti hiduplah. Sebaliknya, kalau ditakdirkan mati, ya matilah. Kita nggak pernah tahu masa depan seseorang.”

“Iya, Pak! Tapi si calon pengantin laki-laki sudah bersikukuh. Tetap mau digagalkan aja pernikahannya. “

“Sebentar! Pikirkan dulu. Kan rencana pernikahan ini tentunya sudah dibuat sejak lama. Sudah dibuat undangan. Sudah didaftarkan di KUA. Tarif nikah sudah disetorkan ke kas negara.  Masak harus digagalkan hanya persoalan seperti itu?! Nggak rugi?! Nggak malu?!”

“Saya juga sudah jelaskan, Pak. Tapi gimana lagi?! Si lelaki itu tetap ngotot ingin menggagalkan pernikahannya. Malah ada yang manas-manasi, ngomong nggak bener.”

“Ngomong nggak bener, gimana?” kejarku.

“Katanya, si perempuan itu membuat guna-guna kepada semua suaminya yang dulu.”

“Wah..!  Wah…. Ini tambah ngaco! Ini bisa jadi fitnah, Pak. Bahaya!”

“Ya, gitulah, Pak. Kepercayaan orang di masyarakat! Malah, si calon pengantin lelaki itu bilang, ‘Saya nggak mau mati konyol, Pak!’ Gitu katanya.”

“Terus, calon pengantin perempuannya gimana sikapnya? Dia setuju rencana pernikahan ini digagalkan?” tanyaku.

“Kalau dia sih, setuju-setuju aja. Semua biaya kan yang nanggung si calon pengantin laki-laki juga.”

“Ya, sudahlah. Besok si calon pengantin itu suruh datang ke kantor. Biar dibuat berita acaranya secara resmi. Berkas pendaftarannya dikembalikan.”

Demikianlah sekelumit cerita nyata yang kami temui saat menjalankan tugas sebagai penghulu. Namun nama pelaku sengaja kami samarkan untuk menjaga privasi yang bersangkutan. Memang tak ada seorang pun yang ingin pernikahannya gagal. Apalagi jika rencana pernikahan itu sudah dekat di depan mata. Semua sudah direncanakan dengan matang. Undangan sudah disebar. Catering sudah dipesan. Pendaftaran di KUA sudah dilakukan dari jauh-jauh hari. Bahkan hiburan pun sudah di-booking.

Tapi, itulah kehidupan. Kita hanya bisa merencanakan, namun Tuhan jua yang akhirnya memutuskan. Segala yang telah kita rencanakan, bisa saja jadi gagal total jika Tuhan Yang Maha Kuasa sudah memutuskan. Semoga hal itu tidak terjadi pada diri Anda. Sebelum memutuskan untuk menikahkan, betul-betul diperhitungkan segala aspek agar tidak menjadi masalah di belakang hari.

Pos terkait