Asal-Muasal Isu Kiamat 2012

Saat ini merebak luas kontroversi tentang film 2012 yang berisi tentang peristiwa kiamat pada tahun 2012. Film yang kini laris manis di seluruh dunia itu bisa dilihat versi thriller-nya di Youtube. Dibesut oleh sutradara asal Jerman, Roland Emmerich, film itu mendasarkan klaim kiamatnya pada perhitungan kalender Long Count yang digunakan Suku Maya. Sebagian orang akhirnya percaya bahwa tanggal itu akan terjadi kiamat yang mengakhiri kehidupan di dunia, lantas dimulai kehidupan yang baru.

Suku Maya sendiri memang dikenal memiliki pengetahuan astronomi kuno. Suku ini tinggal di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah yang berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah barat, dan Laut Karibia di sebelah timur. Pada zaman batu (250 M hingga 925 M), suku Maya mencapai kejayaan di bidang teknologi seperti teknik bangunan (Chichen Itza), pertanian (kanal drainase), tanaman jagung dan latex, sumur yang disebut “cenotes”. Pada saat itu, mereka juga sudah melek huruf dan memiliki sistem penulisan sendiri.

Spekulasi tentang peristiwa kiamat tersebut bisa ditelusuri pada edisi pertama buku berjudul The Maya (1966) karya Michael D. Coe. Menurut Coe, pada tanggal 24 Desember 2011, dipercaya oleh suku Maya akan terjadi Armageddon yang memusnahkan manusia dan menghancurkan seluruh alam semesta. Tanggal ini menjadi tema pembahasan oleh Frank Waters dalam karyanya Mexico Mystique: The Coming Sixth World of Consciousness (1975). Waters bahkan mempersembahkan dua bab tentang interpretasi hal tersebut. Ia juga menguraikan suatu bagan astrologis yang menjelaskan perihal tanggal tersebut serta kaitannya dengan ramalan Suku Indian Hopi, salah satu suku asli Amerika yang tinggal di timur laut Arizona.

Meski tidak dikemukakan tanggal pastinya, petunjuk bahwa terjadi “kiamat” pada tahun 2012 disebutkan pula oleh Jose Arguelles dalam The Transformative Vision: Reflections on the Nature and History of Human Expression (1975). Meski tidak mendasarkan pada referensi dari literatur kuno bangsa Maya, Terence McKenna dan Dennis McKenna juga mengemukakan “kiamat” pada tahun 2012 dalam karya mereka, The Invisible Landscape: Mind, Hallucinogens, and the I Ching (1975).

Buku Waters di atas juga mengilhami spekulasi lebih lanjut tentang hal ini pada pertengahan tahun 1980-an. McKennas, Arguelles, dan John Major Jenkins kemudian merevisi tahun kiamat pada tahun 2011 yang diutarakan oleh Waters. Ketiga ilmuwan tersebut menghubungkan peristiwa “kiamat” dengan peristiwa solstice di musim dingin yang diperkirakan terjadi pada tahun 2012. Solstice sendiri adalah peristiwa astronomis yang terjadi dua kali setiap tahun, ketika kemiringan sumbu bumi sangat dekat ke arah atau menjauh dari matahari, yang menyebabkan posisi matahari jelas terlihat di langit.

Penjelasan tentang tahun 2012 sebagai tahun “kiamat” menjadi tema spekulasi lebih lanjut yang diutarakan oleh Jose Arguelles dalam bukunya The Mayan Factor: Path Beyond Technology (1987) yang dipromosikan pada acara Harmonic Connvergence (1987). Tema ini kemudian dielaborasi dengan teori Novelty oleh Terence McKenna. Teori tersebut merupakan hasil interpretasi McKenna terhadap urutan (sequence) yang dirumuskan oleh Raja Wen dalam kitab kuno China, I Ching.

Sesuai interpretasinya tersebut, McKenna membuat grafik tentang terjadinya periode besar pembaruan alam semesta sesuai dengan pergeseran besar dalam evolusi manusia, baik secara biologis maupun budaya. Ia percaya, suatu peristiwa besar tertentu akan berulang kembali dan berkaitan dengan peristiwa serupa yang terjadi di waktu yang lain. McKenna merujuk kepada peristiwa bom atom Hiroshima sebagai dasar untuk meramalkan peristiwa “kiamat” yang bakal terjadi pada bulan November 2012.

Dalam karyanya Maya Cosmogenesis 2012: The True Meaning of the Maya Calendar End-Date (1998) dan Galactic Alignment:The Transformation of Consciousness According to Mayan, Egyptian, and Vedic Traditions (2002), Jenkins juga menyebutkan ramalan tentang terjadinya astronomical conjuction yang menimpa lubang hitam (black hole) di tengah galaksi bimasakti. Peristiwa itu juga diiringi dengan fenomena solstice di musim dingin tanggal 21 Desember 2012. Astronomial conjuction sendiri adalah peristiwa di mana dua benda langit muncul saling berdekatan satu sama lain dan tampak terlihat di angkasa dari suatu tempat, biasa di bumi. Fenomena juga terkadang disebut appulse.

Peristiwa ini sebenarnya sudah diprediksi para ahli astronomi kuno dari Suku Maya dan beberapa bangsa lain. Jenkins sendiri menyatakan bahwa pengetahuan astronomi Suku Maya tersebut berdasarkan hasil observasi terhadap “celah gelap” (dark rift) di bimasakti sebagaimana yang bisa terlihat dari bumi. Sebagian ilmuwan dari Suku Maya percaya bahwa celah gelap itu merupakan pintu masuk menuju Xibalba. Dalam mitologi bangsa Maya, Xibalba dipercaya sebagai sebuah tempat di bawah dunia yang dihuni oleh para dewa kematian dan para pengikutnya. Sebagian ilmuwan Maya lain percaya bahwa hal tersebut merupakan bukti bahwa pengetahuan mereka diperoleh melalui kontak gaib dengan kecerdasan ekstraterestrial.

Berdasarkan penelitian modern tentang “celah gelap” (dark rift) yang dihubungkan dengan kepercayaan Amerika Kuno dan masyarakat tradisional Maya, hal itu masih menuai perdebatan yang sengit. Para arkeolog menolak semua teori tentang kontak ekstraterestrial tersebut. Namun yang jelas, kepercayaan bangsa Maya secara tidak langsung dipromosikan melalui kontroversi kiamat 2012 ini. Pada gilirannya, hal ini juga menimbulkan adanya evolusi dalam kepercayaan sinkretis di tengah masyarakat Maya kontemporer.

Bantahan terhadap Isu Kiamat 2012

Sebagian ilmuwan membantah peristiwa kiamat pada tahun 2012 yang dikaitkan dengan ramalan suku Maya. Sebagian besar para ilmuwan yang khusus meneliti tentang peradaban Maya juga berpendapat bahwa wacana Long Count kalender Suku Maya yang berakhir pada tahun 2012 merupakan suatu gambaran yang salah tentang sejarah Maya. Di masyarakat modern Maya sendiri, wacana kiamat 2012 sendiri sudah tidak lagi relevan. Literatur-literatur klasik Maya yang membahas masalah ini juga juga sangat langka dan saling bertentangan. Hal ini menunjukkan bahwa kecil kemungkinan adanya kesepakatan yang umum dipercayai oleh Suku Maya tentang hal tersebut.

Sesepuh suku Maya, Apolinario Chili Pixtun, dan arkeolog Mexico, Guillermo Bernal, menyatakan bahwa “kiamat” hanya memiliki sedikit keterkaitan bahkan tidak ada keterkaitan sama sekali dengan keyakinan suku Maya. Bernal percaya bahwa ide-ide tentang kiamat tersebut telah disisipkan oleh orang Barat pada keyakinan orang Maya. Hal itu karena di kalangan orang Barat sendiri, konsep kiamat sudah banyak yang tidak mempercayainya

Menurut Maya Linda Schele dan David Freidel, bangsa Maya sendiri tidak menganggap bahwa pada tahun 2012 itu merupakan akhir penciptaan seperti yang sering diungkapkan. Di masyarakat Maya saat ini pun, ramalan di tahun 2012 tidaklah dianggap sesuatu yang penting. Meski di beberapa suku Maya yang tinggal di dataran tinggi Guatemala, kalender Long Count masih dipergunakan. Jose Huchm, arkeolog yang meneliti suku Maya, juga menyatakan, “Saat aku pergi ke beberapa masyarakat berbahasa Maya dan bertanya tentang tanggapan mereka terhadap apa yang terjadi pada tahun 2012, mereka sendiri justru tidak tahu. Apakah dunia akan berakhir pada tahun itu? Mereka sendiri tidak percaya.”