Anies Baswedan

Suatu hari selepas Isya, aku datang ke kampus. Ada kegiatan orasi dan pentas seni untuk memprotes kebijakan rektorat yang membredel majalah kampus, Arena. Saat itu, sekitar tahun 90-an, majalah itu menurunkan berita yang membongkar bisnis keluarga Cendana. Padahal saat itu, Presiden Soeharto masih berkuasa dengan powerfull. Tak ayal, majalah itu pun dilarang terbit menyusul majalah Tempo yang juga menurunkan berita yang sama.

Salah satu tokoh yang menarik perhatianku dalam acara tersebut adalah seorang pemuda tampan berwajah Arab. Ia tampil berorasi di tengah kerumunan penonton dengan begitu lugas dan lancar. Ia memprotes keras kebijakan otoritas kampus dan pemerintah pusat yang tak membuka ruang kritik. Tak ada ketakutan atau grogi sedikit pun tersurat di raut wajahnya. Aplaus meriah menyambutnya saat ia usai menyampaikan orasi penuh tenaga itu.

Pulang dari acara itu, aku menyimpan kesan yang begitu dalam pada sosok pemuda itu. Sebagai mahasiswa di tahun-tahun awal kuliah, tentu saja aku belum begitu mengenal para tokoh gerakan mahasiswa. Akhirnya, usai tanya sana-sini, ternyata ia adalah Ketua Senat Mahasiswa UGM. Aku pun maklum, jika ia tampil begitu memukau. Ia memang aktivis yang sudah dikenal luas di kalangan para aktivis lintas kampus.

Bertahun-tahun kemudian, selepas lulus dari kampus, aku mendengar berita bahwa pemuda itu menjadi rektor termuda di negeri ini. Kariernya terus mencorong. Ia pun sering muncul di televisi untuk menjadi pembicara di acara talkshow atau diskusi yang bertema politik. Ia menjadi salah satu pengamat yang kritis dalam menilai kebijakan pemerintah. Dan saat pilpres beberapa bulan silam, ia juga tampil menjadi moderator dalam debat calon presiden.

Minggu-minggu terakhir ini, ia pun menjadi salah satu tokoh penting dalam gonjang-ganjing kasus kriminalisasi terhadap anggota KPK non aktif, Bibit Samad Riyanto dan Hamzah Chandra. Ia menjadi salah tokoh yang dipanggil Presiden untuk diajak berembuk mengatasi kemelut pertikaian Cicak vs Buaya yang sedang disoroti publik. Usai acara rembuk itu, ia kembali terpilih menjadi salah satu anggota Tim 8 yang bertugas mencari fakta tentang kasus tersebut. Dengan kepiawaiannya berbicara di depan publik, bahkan ia juga menjadi juru bicara Tim 8.

Dari perjalanan hidupnya, aku melihat betapa konsistensi dalam bersikap membuahkan integritas yang tak semua orang memilikinya. Dalam usia relatif muda, ia sudah menjadi tokoh penting di jagat negeri ini. Kesuksesannya memang bukan dilahirkan dalam sekejap, meski ia terlahir sebagai cucu salah satu fouding fathers negeri ini, Abdurrahman Baswedan. Ia membangunnya sejak lama saat ia masih duduk di bangku kuliah S1. Mungkin juga jauh sebelumnya. Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, aku masih sangat mengenal sosok berwajah Arab yang begitu menarik perhatianku pada saat acara kampus itu. Ya, dialah Anies Rasyid Baswedan.