Adam Gugat

israel_palestine

Tempat ini sungguh asing sekali baginya. Orang-orang berpakaian militer sibuk lalu-lalang membawa senjata. Wajah-wajah mereka tanpa senyum dengan sorot mata tajam. Peluru-peluru mendesing mencari mangsa. Panser-panser bergemuruh melintasi jalan-jalan yang riuh. Bom-bom berdentuman menghancurkan setiap bangunan yang ada.

Para pengungsi bergerombol di pinggir-pinggir jalan. Kesedihan dan keletihan membatu di wajah-wajah kuyu itu. Tatapan bengis sang maut membayang di sorot mata mereka. Bagai setan yang setiap saat siap menancapkan taring-taring tajam di leher mereka.

Kota apa ini? Apa ini Dunia yang dikatakan Papa? gumamnya sendiri. Sungguh mengerikan. Duh, mengapa Gabriel langsung pulang ke Firdaus dan tak mau menemaniku? Adam kian dalam ditikam belati kebingungan dan ketakutan. Tak tahu apa yang harus ia perbuat. Sementara ancaman kematian kian menyudutkannya ke tepi jurang waktu.

“Kau tak boleh tinggal di sini lagi! Kau akan Papa kirimkan ke Dunia,” putus Papa tadi malam tegas.

“Mengapa, Pa? Apa salah Adam?” protes lelaki itu. “Kau selalu saja berhubungan sama Eva! Sampai  lupa waktu! Lupa kuliahmu!”

“Aku masih bisa mengatur waktu, Pa. Kuliah aku juga tidak terganggu.”

“Tidak terganggu bagaimana?! IP kamu jeblok semua! Papa malu! Papa tidak ingin kamu gagal. Kau harus kuliah di Dunia! Biar bisa melupakan Eva! Biar bisa lebih serius dan dewasa! “

“Aduh, Pa!  Aku tidak mau berpisah dengan Eva. Aku mencintainya!”

“Nah, itulah! Kau berkata cinta. Apa arti cinta, hah?! Hmmm. . . Kau masih harus belajar tentang arti cinta sesungguhnya! Karena itu pula, Papa kirimkan kau ke Dunia. Biar sekalian belajar tentang cinta! Belajar tentang kearifan!”

Adam tercenung mengingat pembicaraannya dengan Papa. Apa keputusan Papa sendiri sebuah kearifan? Mengirimkanku ke suatu tempat yang jauh dan asing, apakah suatu tindakan bijak? Ah, Adam tak kuasa menghalau galau hatinya. la juga tidak siap meninggalkan Firdaus ini. Apa aku sanggup melupakan rembulan di wajah Eva? desahnya. Sudah berpuluh-puluh tahun dia tanamkan sekuntum mawar di taman hati gadis itu.

“Va,  aku tahu kau mencintaiku,” ujar Adam pada Eva ketika mereka mampir di Taman Firdaus dan berteduh di bawah Pohon Keabadian. “Tapi, ternyata kita belum menyelam hingga ke dasar lautan cinta yang kita arungi. Tangan kita belum kuat melambaikan salam perpisahan. Cinta kita masih menyimpan tali pemilikan, hingga menjerat sayap kebebasan. “

“Kau ingin kita berpisah?” desis Eva curiga.  “Kau sudah tidak suka aku lagi?”

“Apa aku berkata begitu? Tidak, Eva. Kita tidak pernah mampu memastikan ke mana arah sang bayu, walaupun ia senantiasa berhembus di sekitar kita.  Karena  itu, aku ingin kita belajar mencintai, tanpa harus menciptakan penjara dengan cinta itu sendiri.”

Adam masih teringat pertemuan terakhirnya dengan Eva itu. Kini Adam pun menyadari, yang dikatakannya benar-benar terjadi. Dan ia merasa, betapa sulitnya menutup album kenangan di Firdaus. Apa aku akan mempunyai teman di Dunia? Apa di sana aku bisa menonton Rendra, membaca Ernest Hemingway, atau mengacungkan poster di depan tangga demokrasi?

“Kau besok diantar Gabriel ke Dunia,” kata Papa tadi malam. “Nanti bisa pakai Bouraq.”

“Ke Dunia? Dunia di mana, sih, Pa?” tanya Adam penasaran.

“Nanti juga kau tahu sendiri.”

“Mengapa tidak diberitahu sekarang aja?”

“Karena Papa ingin kau belajar mempersiapkan diri menghadapi suatu keadaan, bagaimanapun adanya. Tanpa kau harus tahu sebelumnya.”

“Tapi mengapa harus Dunia, Pa?”

“Karena di sana, kau tak hanya menjumpai cerahnya mentari pagi, tapi juga pekatnya malam yang sunyi.”

Apa ini keadaan yang harus kuhadapi? gumam Adam. Gumpalan benang kusut yang ia tak tahu bagaimana merapikan kembali.

“Siapa kau?!” Dari samping seseorang dengan bengis menodongkan moncong senapan ke kepala lelaki itu.

Lamunan Adam buyar berkeping-keping. Refleks ia menoleh.

“Jangan bergerak! Mana KTP-mu!” bentak si lelaki brewok sebelum Adam sempat berbicara.

Gemetar Adam mengangsurkan KTP Firdausnya. Ia kian ngeri melirik moncong senjata itu.

Si Brewok kembali menatap beringas. Matanya melotot penuh curiga. “Kau harus ikut aku! Kau harus menemui Hitler!”

“Siapa Hitler? Mengapa aku harus menemui dia?” tanya Adam bingung.

“Hitler penguasa di Dunia ini. Karena kau orang asing, maka kau harus menemui dia.”

Jadi, ini kota yang bernama Dunia, pikir Adam. Sebuah tempat yang nyaris bak neraka. Sebuah ledakan keras kembali mengobrak-abrik perasaannya. Sebelum menaiki sebuah jeep militer bersama serdadu brewok itu, ia masih melihat pula seorang wanita yang menangis keras di sisi lelaki yang tewas bersimbah darah, dan terbujur kaku di pinggir jalan sana.

“Cinta? Sebuah ilusi! Kata gombal!” sembur Hitler lantas tertawa keras ketika Adam bertemu dan usai menjelaskan asal-usulnya.

“Tidak, Hitler! Cinta adalah kekuatan yang dimiliki tiap manusia. Kau saja yang tidak mencoba belajar mencintai!”

“Apa cinta bisa memecahkan persoalan di Dunia ini, heh?” sergah Hitler sembari membersihkan pistolnya. “Semua pemimpin di sini ingin terus berkuasa. Dan mereka tahu, untuk melanggengkan kekuasaannya, bukan dengan cinta! Tapi dengan ini!” Hitler mengacungkan pistolnya ke hidung Adam. Ia pun tersentak kaget, mundur beberapa langkah, hingga memasuki wilayah Balkan.

Betapa Adam terkejut. Ia melihat Karadjick menembaki orang-orang Bosnia dengan santai. Persis seperti membunuh lalat-lalat.

“Karadjick!!” teriak lelaki itu mengguntur. “Mengapa kau tak jua hentikan genocide ini?! Demi dendam masa lalu yang absurd, hah?”

“Apa kau dulu juga pernah memerintahkan orang-orang Turki Seljuk itu menghentikan penyerbuan mereka ke sini?” ujar Karadjick sembari terus menembakkan senapan ke puluhan orang tak berdaya di kamp pengungsian itu.

Booum!! Booum!! Dua buah ledakan mahabesar nyaris memecahkan gendang telinga Adam. la pun langsung menoleh. Hiroshima dan Nagasaki telah berkobar dengan api. Jutaan Nippon hangus terpanggang. Ribuan bangunan luluh lantak menjadi puing-puing. Adam merasa tak kuat lagi. Nuraninya tercabik-cabik.

***

“Baiklah,  kita harus mencari penyelesaian semua masalah ini,” ujar Adam serius. “Sungguh mengherankan bila kita membiarkan seseorang membocorkan bahtera kehidupan yang kita tumpangi bersama. Kita akan tenggelam bersama walau tak ikut membocorkan dan merusak bahtera  ini. Padahal perjalanan kita masih jauh.”

“Walaupun bahtera ini akan bocor dan karam, kita masih memiliki sekoci keimanan dan cinta yang akan menyelamatkan kita,” sahut Theresia.

“Tidak! Itu bukanlah keimanan dan cinta. Itu keinginan mementingkan diri sendiri!”

“Kau harus membuka mata, Dam. Kita tak memiliki kekuasaan apa-apa. Kau hanya akan mengantarkan nyawa saja bila berani menghalangi mereka.”

“Semua orang pasti mati, Theresia. Tapi tidak semua orang pasti benar-benar hidup. Karena  itu, kita harus mencoba,” tandas Adam.

“Aku sudah berkali-kali mencobanya, Dam. Apa hasilnya? Gagal!  Semua pemimpin gila! Gila semua!  Kau tahu Hitler,  kan? Dia yang dulu paling keras menentangku. Dia menerapkan kebijakan holacaust yang membunuh beribu-ribu orang Yahudi!”

“Kalau tahu begitu, mengapa justru kau membiarkan hal itu terjadi? Apa kita biarkan Dunia ini hancur oleh tangan kita semua?”

“Dam, ada saatnya orang harus bercumbu dengan kesunyian. Hingga dari catatan semesta, ia mampu membaca jejak yang telah ia pahatkan, dan membaca langkah yang akan ia ayunkan. Nah, sekarang, begini, Dam. Menurutku,  kau pikirkan saja kuliahmu. Tidak usah memikirkan yang lain-lain dulu. Kau ke dunia ini mau kuliah di Fakultas Cinta, Adam pulang ke apartemennya. Masih terngiang-ngiang nasihat Theresia saat ia bersua wanita itu tadi siang di India. Ia pun bertarung dengan kebingungannya sendiri. Betapa persoalan ini tak sederhana.

Di luar, langit kian panas. Bau mesiu merebak ke setiap sudut dunia. Aroma anyir darah menyeruak menusuk hidung, diterbangkan hembusan angin yang keji.

“Cinta juga adalah suatu aksi.  Suatu pergerakan. Bukan hanya suatu emosi yang membuat orang buta terhadap kenyataan di sekitarnya,” terang Profesor Isa di depan kelas.

Dari tempat duduknya paling depan, Adam mencoba mencerna kuliah Teori Cinta dari lelaki nyentrik yang kurus dan gondrong itu.

“Cinta hakiki identik dengan kebaikan, keadilan, keikhlasan,” lanjut Sang Guru Besar di Universitas Kehidupan itu. “Karena itu bukan sebuah cinta namanya walaupun dikatakan demi cinta, bila seseorang menguasai, menindas, dan menyiksa orang yang ia cintai. Karena cinta juga adalah pembebasan, revolusi.”

“Tapi,  Prof,”  Adam mengacungkan jari,  “bagaimana pelaksanaan cinta seperti yang Anda maksud? Apa ada cinta yang seperti itu?”

“Kau gunakan otak, lidah, serta kaki dan tanganmu. Kau sendiri yang harus tentukan bagaimana cara yang terbaik. Kalaupun kau harus mengangkat senjata, kau harus menyadari bahwa itu demi cinta. Sehingga bila usaha itu telah berhasil, kau tidak akan mengkhianati cinta. Sebab, kau menghancurkan Firaun bukan untuk menjadi Firaun baru.”

***

Peperangan demi peperangan justru kian berkecamuk dahsyat. Cinta dikebiri jadi setangkai kembang plastik yang ditancapkan di jambangan nafsu. Pembangunan berubah mantra ampuh yang kuasa mendatangkan buldoser guna menelan sawah Paimin, lantas memuntahkannya menjadi lapangan golf dan real estate. Laskar Marsinah memberontak dari himpitan mesin-mesin yang merampas periuk nasi mereka serta berusaha menyihir mereka jadi sekrup-sekrup tolol.

Apakah ini suatu keniscayaan sejarah? Adam bergumam pilu. Dari rahim tiap zaman, tak hanya lahir para pahlawan, tapi juga para pecundang. Kejahatan dan penindasan bagai duri yang tak bisa dicabut dari tubuh kemanusiaan. Tapi apakah aku harus berhenti berjuang mengeluarkan duri itu? Adam lelah. Keputusasaan kian menusuk-nusuk ulu hatinya. Ia merasa sia-sia berusaha.

Tapi, lihatlah, desis Adam. Duri itu telah menciptakan luka yang kian menganga. Darah terus mengucur membasahi permukaan Dunia ini. Tubuh kemanusiaan terancam di ambang  kebinasaan. Kekuatannya  berangsur  berkurang.

Menggerogoti nurani. Mengeringkan sumur jiwa. Melenyapkan sejumput asa yang masih tersisa di balik jubah fajar.

“Hei, para pemimpin gila!!!” teriak Adam yang juga nyaris gila di atas patung Liberty. “Ternyata kalian tak menyimak jeritan nurani kalian sendiri…” Adam terus menumpahkan seribu amarah yang menggumpal di dada. Meneriakkan jutaan kata yang menjelma timbunan sampah di bibir para rahwana.

Dar…der….dor! Tiba-tiba berlaksa ledakan dahsyat menggelegar.  Mungkin inilah saat  yang diramalkan para ilmuwan. Gunung-gunung beterbangan bagai debu. Matahari berputar-putar tak tentu arah! Langit runtuh!  Ozon pun pecah. Meloloskan hujan panas tak terperi ke seluruh sudut buana. Teriakan-teriakan panik dan takut membahana. Semua orang berlarian tak  tentu arah. Sungguh mencekam dan mengerikan.

Adam pun tak bisa kembali  Firdaus. Ia tak bisa melaporkan kuliahnya di Dunia.