Ada Apa denganmu, Indramayu?

Setelah hampir sepuluh tahun tinggal di Indramayu, saya semakin menyadari betapa uniknya kota mangga tersebut. Betapa tidak, banyak kontradiksi yang saya lihat di depan mata. Dan anehnya, semua kontradiksi berjalan seiring di tengah masyarakat seolah tanpa masalah. Orang-orang seolah membiarkan begitu saja betapa banyak problem sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Apakah ini yang dinamakan gejala, meminjam istilah Erich Fromm, masyarakat yang sakit? Mungkin juga.

Di kota Indramayu, perda tentang anti miras sudah disahkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi apa lacur yang terjadi? Sepuluh orang lebih mati sia-sia karena berpesta ria di malam Hari Raya Idul Fitri dan seusai shalat Id! Sungguh ironis! Sebelumnya, di bulan Ramadhan, ketika orang-orang (Islam) mestinya mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbanyak ibadah, 21 orang lebih tewas mengenaskan karena, lagi-lagi, pesta miras. Ada apa denganmu, Indramayu?

Ada lagi kontradiksi yang menyesakkan dada. Di Indramayu, banyak para santri yang belajar di berbagai pesantren, baik di Jawa Timur, maupun di daerah-daerah lain. Di Indramayu sendiri, hampir setiap kecamatan ada pesantren. Hampir setiap desa ada Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Taman Pendidikan Alquran (TPA). Bahkan para penghafal Alquran (hafiz/hafizah) juga lumayan banyak. Lulusan Al-Azhar Kairo juga tidak sedikit jumlahnya. Pemerintah Kabupaten Indramayu juga mewajibkan untuk mengenakan jilbab kepada para karyawan perempuan yang beragama Islam di seluruh instansi pemerintahan dan juga kepada para siswi beragama Islam.

Namun yang terjadi di tengah masyarakat, tingkat prostitusi dan traficking cukup tinggi. Jika ada anak gadis seusia anak SMP atau SMA dan memiliki para lumayan serta berasal dari keluarga miskin, maka jangan harap anak itu lepas dari pantauan para kaki tangan mucikari yang siap menjual mereka ke Jakarta, Batam, atau di Indramayu saja. Orang tua pun dengan sadar menjual anak-anak gadis mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Memang sangat mudah untuk mendeteksi seorang perempuan Indramayu apakah ia seorang perempuan “nakal” atau bukan. Lihat saja penampilannya. Jika ia berpenampilan seksi bergaya bak artis ibukota, berdandan menor, dan berkeliaran di malam hari, maka kemungkinan besar ia adalah perempuan “nakal!”

Ada sebuah cerita tragis yang terjadi di Amis, salah satu desa di Indramayu. Alkisah, ada seorang ayah yang nekad menjual tanah berikut rumah yang ia tempati. Tak ayal ia pun tak punya tanah dan rumah lagi. Hal itu ia lakukan guna memperoleh modal demi mempercantik dan merubah penampilan kedua anaknya. Setelah kedua anak berpenampilan cantik laksana artis sinetron, keduanya pun dipekerjakan sebagai pelacur kelas tinggi di Jakarta. Setelah menjadi pelacur kelas atas, keduanya mengirimkan uang secara rutin kepada sang ayah yang sudah bercerai dengan istri yang juga mantan seorang pelacur. Tidak hanya uang, keduanya pun membangun rumah megah berarsitektur modern yang menjadi rumah paling bagus di Amis saat itu.

Namun Tuhan memang tidak tidur. Ketika sekitar dua tahun lalu terjadi bencana angin puting beliung di desa tersebut, rumah nan megah itu pun luluh lantak tak bersisa. Kedua anaknya lantas berhenti dari profesi sebagai PSK dan menikah. Menyadari pasokan uang dari sang anak terhenti karena berhenti dari pekerjaan sebagai PSK, sang ayah marah besar dan seolah menganggap kedua anaknya itu sebagai anak durhaka yang tidak patuh kepada orang tua.

Di Indramayu, adalah sangat biasa jika anak gadis berumur 17-20 tahun menikah. Ya, pernikahan dini. Dan apa yang terjadi kemudian dengan pernikahan mereka. Kebanyakan pernikahan itu berujung dengan perceraian. Sebagai seorang petugas pencatat nikah yang tiap hari bergelut tentang pernikahan, saya tahu persis tentang hal itu. Pernikahan bagi para pengantin muda itu, tampaknya tak lebih dari sekedar warming up untuk kelak menikah lagi dua atau tiga kali. Atau juga pernikahan itu tak lebih dari sekedar untuk menutup malu keluarga karena sang gadis telah hamil di luar nikah.

Mungkin ada sesuatu yang salah yang harus dibenahi di masyarakat Indramayu. Sepanjang pengamatan saya, memang budaya hura-hura sangat kental di Indramayu. Seorang tukang ojek atau tukang becak bahkan rela menghutang ke sana kemari untuk mengadakan acara khitanan anaknya. Acara itu pun digelar besar-besar dengan mengundang organ tunggal atau sandiwara di siang hingga malam hari. Sebelumnya sang anak yang dikhitan juga diarak menggunakan acara Singa Depok yang diiringi dengan dangdut tarling. Orang-orang pun, muda tua, laki-laki dan perempuan, dengan berjoget ria sembari mabuk di belakang arak-arakan Singa Depok. Ketika organ tunggal dilangsungkan, sang tuan rumah juga menyediakan berkrat-krat minuman keras untuk pemuda-pemudi bermabuk ria saat penyanyi tarling beraksi di atas panggung.

Berbagai persoalan sosial semestinya menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Indramayu dan juga seluruh elemen masyarakat yang ada. Sudah sepatutnya ada rekayasa sosial sedemikian rupa agar berbagai persoalan tersebut bisa diminimalisir juga tidak bisa dihilangkan sama sekali. Kelak ketika pilkada bupati mendatang, tampaknya harus ada kontrak politik agar jika calon bupati terpilih harus berani mengatasi berbagai persoalan tersebut. Ya, tidak hanya berupaya mengumpulkan pundi-pundi uang untuk mengembalikan ongkos pilkada.